


Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani menyampaikan, sejak hari santri ditetapkan pada tahun 2015, Kemenag selalu menggelar peringatan hari santri setiap tahun dengan tema yang berbeda-beda. Secara berurutan pada tahun 2016 mengusung tema 'Dari Pesantren Untuk Indonesia'.
Kementerian Agama (Kemenag) bekerjasama dengan ormas Islam kembali menyelenggarakan peringatan Hari Santri 2020 bertema 'Santri Sehat Indonesia Kuat' yang diluncurkan pada 1 Oktober 2020. Peringatan Hari Santri tahun ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan dan penyebaran Covid-19.
Kemudian di tahun 2017 mengusung tema 'Wajah Pesantren Wajah Indonesia, tahun 2018 bertema 'Bersama Santri Damailah Negeri, dan tahun 2019 bertema 'Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia'. "Dan untuk peringatan Hari Santri 2020 secara khusus mengusung tema 'Santri Sehat Indonesia Kuat'," kata Ramdhani saat peluncuran Hari Santri 2020 di Kemenag, Kamis (1/10).
Ia menyampaikan, isu kesehatan diangkat berdasarkan fakta bahwa dunia pada saat ini tidak terkecuali negara Indonesia tengah dilanda pandemi Covid-19. Pengalaman terbaik dari beberapa pesantren telah berhasil melakukan upaya pencegahan, pengendalian, dan penanganan dampak pandemi Covid-19.
Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa pesantren memiliki kemampuan di tengah keterbatasan yang dimilikinya untuk menangani berbagai tantangan dan dinamika lingkungan. Tentu modal utamanya adalah tradisi kedisiplinan yang selama ini diajarkan kepada para santri dan keteladanan sikap serta kehati-hatian para kiai atau pimpinan pesantren.
"Tentu saja dilengkapi dengan dimensi-dimensi transenden dan dimensi-dimensi spiritual yang diajarkan di lingkungan pesantren, karena mereka akan tetap mengutamakan keselamatan santrinya dibanding dengan proses pembelajaran pesantren," ujarnya.
Ramdhani menyampaikan rangkaian peringatan Hari Santri 2020. Di antaranya pada 30 September - 15 Oktober 2020 dilaksanakan Santri Millennials Competitions, pada 5 - 20 Oktober 2020 dilaksanakan Muktamar Pemikiran Santri Nusantara, dan pada 6 - 7 Oktober 2020 dilaksanakan Kopdar Akbar Santrinet Nusantara.
Selanjutnya pada 8 Oktober 2020 dilaksanakan Shalawat Creator and Influencer Summit. Pada 15 Oktober 2020 dilaksanakan Penyerahan BOP Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Islam, serta Bantuan Pembelajaran Daring Pesantren. "Pada 21 Oktober 2020 dilaksanakan Santriversary, dan Malam Puncak Peringatan Hari Santri 2020, dan 22 Oktober 2020 dilaksanakan Upacara Bendera," ujarnya.
Ramdhani mengatakan, penyelenggaraan hari santri tahun ini Kemenag bergandengan tangan dengan ormas Islam. Insya Allah akan mengusung tema yang sama yakni 'Santri Sehat Indonesia Kuat'. Mengingat sekarang masih dalam kondisi pandemi Covid-19, peringatan hari santri akan tetap berpedoman pada protokol kesehatan dalam rangka mencegah dan mengendalikan Covid-19.
Wakil Menteri Agama (Wamenag), KH Zainut Tauhid Sa'adi memastikan peringatan hari santri disesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19. Artinya dilakukan secara virtual dengan berbagai kegiatan dan lomba. Ada kegiatan seminar dilakukan virtual untuk menjaga kesehatan para santri dan juga para pengasuh pondok pesantren.
"Nanti puncak pada 22 Oktober 2020, kami berharap bapak presiden akan memberikan wejangan amanat untuk para santri di seluruh Indonesia," kata Wamenag.
Dikutip dari buku 'Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren' karya Abdulloh Hamid M.Pd, resolusi jihad tersebut menggerakkan santri, pemuda, dan masyarakat untuk bergerak bersama, berjuang melawan pasukan kolonial yang puncaknya terjadi pada 10 November 1945.
Setiap tanggal 22 Oktober diperingati sebagai hari Santri Nasional. Peringatan ini menjadi hal yang penting karena tujuannya untuk mengingatkan masyarakat tentang resolusi jihad KH Hasyim Asyari.
Latar Belakang Peringatan Hari Santri Nasional
Peringatan ini mengisahkan Hasyim Asyari yang kala itu menjabat sebagai Rais Akbar PBNU memutuskan untuk melakukan resolusi jihad melawan pasukan kolonial di Surabaya, Jawa Timur. Keputusan itu ditetapkan setelah mendengar tentara Belanda yang berupaya kembali menguasai Indonesia dengan membonceng sekutu.
Para santri pun meminta kepada pemerintah supaya menentukan sikap dan tindakan agar tidak membahayakan kemerdekaan serta agama. Pasalnya, perbuatan Belanda dan Jepang kepada Indonesia dianggap sebagai perilaku zalim bagi NU.
Sejak menyerukan resolusi jihad tersebut, para santri dan rakyat pun melakukan perlawanan sengit dalam pertempuran di Surabaya. Pimpinan Sekutu Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby pun tewas dalam pertempuran.
Hari Santri Nasional pun dituangkan ke dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani di Masjid Istiqlal, Jakarta. Dengan begitu, masyarakat bisa kembali mengingat perjuangan dan meneladankan semangat jihad para santri yang digelorakan para ulama.
Lirik Lagu Hari Santri
22 Oktober 45 - Resolusi jihad panggilan jiwa
Santri dan ulama tetap setia
Berkorban pertahankan indonesia
Saat ini kita telah merdeka
Mari teruskan perjuangan ulama
Berperan aktif dengan dasar pancasila
Nusantara tanggung jawab kita
Reff:
Hari santri hari santri hari santri
Hari santri bukti cinta pada negeri
Ridho dan rahmat dari ilahi
Nkri harga mati
Ayo santri ayo santri ayo santri
Ayo ngaji dan patuh pada kyai
Jayalah bangsa, jaya negara
Jayalah pesantren kita
Mari bersiap kita berangkat
Ke pesantren dengan penuh semangat
Raih cita cita luruskan niat
Mengabdi tuk kemaslahatan umat
Back to reff
***
Jayalah bangsa negara
Jayalah indonesia
Jayalah indonesia
Selamat Hari Santri Nasional 2020!
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengikhbarkan awal bulan Rabiul Awal 1442 H jatuh pada Ahad (18/10).
"Awal Rabiul Awal 1442 H bertepatan dengan hari Ahad Pahing (mulai malam Ahad), 18 Oktober 2020," kata Ketua LF PBNU KH Sirril Wafa melalui rilis yang diterima NU Online pada Ahad (18/10) pagi.
Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil pengamatan sebagian perukyah yang menangkap adanya hilal.
"Sebab hilal terlihat pada Sabtu petang 29 Shafar 1442 H," lanjut dosen ilmu falak di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu. Setidaknya, ada tiga lokasi yang berhasil melihat hilal awal Rabiul Awal 1441 H, yakni Bukit Condrodipo, Gresik, Jawa Timur; Masjid Jami' Denanyar, Jombang, Jawa Timur; dan Balai Rukyat Ibnu Syatir Joresan, Ponorogo, Jawa Timur.
Dengan adanya ikhbar tersebut, Maulid Nabi Muhammad SAW atau 12 Rabiul Awal 1442 diperingati pada Rabu (28/10) malam. Sebagai informasi, tinggi hilal pada akhir Shafar 1442 sudah mencapai 8 derajat 3 menit 36 detik di Markaz Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta. Sementara ijtimaknya terjadi pada Sabtu (17/10) dinihari, pukul 02.31.51 WIB.
Data tersebut sudah memenuhi kriteria imkanurrukyah, kemungkinan hilal bisa terlihat mengingat ketinggiannya sudah lebih dari 2 derajat dan rentang waktu ijtimak dengan terbenamnya matahari pada pukul 17.49 WIB sudah lebih dari 15 jam.
Adapun kedudukan hilal berada pada 1 derajat 20 menit 59 detik sebelah utara matahari dengan durasi terlihat selama 31 menit 1 detik.
Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan
Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/123950/masuk-rabiul-awal--maulid-nabi-jatuh-pada-rabu-malam-28-oktober
Dilansir dari laman situs Batumarta Update, Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kecamatan Lubuk Raja Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) telah menggelar Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) di halaman Masjid Al Falah Desa Batu Raden Kecamatan Lubuk Raja, Minggu Pagi (11/10/2020).
Ditempat yang sama Ketua PSNU Pagar Nusa Kecamatan Lubuk Raja, yang biasa disapa dengan Bang Togar, menyampaikan bahwa
UKT kali ini diikuti 25 santri PSNU se-Lubuk Raja, dan dibuka langsung dibuka oleh Rais Syuriah PCNU OKU yakni KH. Sofwan Syihab.
Dalam sambutannya Rais Syuriah PCNU OKU yang akrab dipanggil Abah Sofwan berpesan agar peserta UKT tetap semangat dan ikhlas manjalani seluruh proses.
“Ikhlas jalani seluruh proses. Insyallah akan membawa berkah untuk kita semua,” ujar Abah Sofwan.
Abah Sofwan menekankan bahwa PSNU adalah benteng NKRI, sudah semestinya harus ditanamkan dalam setiap santri Pagar Nusa bahwa NKRI adalah harga mati yang tidak boleh ditawar-tawar.
“Kita adalah benteng NKRI, Siapa yang mengganggu NKRI dan Ulama NU maka kita harus menjadi garda terdepan,” Tegasnya.
Tak hanya itu, Abah Sofwan juga menambahkan sudah saatnya santri PSNU wajib mencintai Negara Indonesia ini dengan cara menjaga keutuhan NKRI dari mereka yang ingin mengganggu dan merusak NKRI.
Secara terpisah Ketua PAC Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Lubuk Raja, Yoyon Asfai, juga menyambut baik kegiatan UKT ini dan tentunya kedepan akan ada beberapa hal terkait dengan program Ansor Lubuk Raja yang tentunya kedepan bisa di sinergikan dengan seluruh anggota PSNU.
“Ansor dan Banser selalu siap mendukung dan mensukseskan acara Pagar Nusa di Lubuk Raja, untuk itu jangan segan-segan untuk selalu konsultasi dan koordinasi dengan kami. Karna bagi kami, PSNU adalah Saudara Kandung Ansor”. Pungkasnya.
Berkibarnya bendera dan Ruh NU di wilayah Kabupaten OKU merupakan sebuah titik balik yang efektif dalam realisasi visi dan misi organisasi NU.
Pengembangan struktur dan kepengurusan Organisasi baik Banom maupun Lembaga NU di Kabupaten OKU saat ini telah dimulai dari akar rumpun, diharapkan mampu menjadi penyokong semangat bagi kader-kader NU yang telah berjuang terlebih dahulu dalam naungan Bendera NU, inilah generasi muda NU, bibit-bibit Kader pilihan yang diharapkan kedepan mampu menjadi generasi penerus dalam upaya mengemban dan melaksanakan visi dan misi organisasi NU secara umum.
Kontributor: Yyn
Editor: F-Wtk
Source: Batumarta Update
Di pelosok Kabupaten Bekasi, berdiri sebuah istana cukup megah yang berdiri di atas tanah seluas 7000 meter persegi. Kastil yang semula luas tanahnya 3000 meter persegi ini, berada di tengah-tengah pemukiman warga Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Disebutlah Istana Yatim Nurul Mukhlisin atau dengan nama lain Pesantren Motivasi Indonesia, yang diasuh oleh KH Ahmad Nurul Huda Haem, salah seorang pengurus di Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Pesantren ini diperuntukkan bagi anak-anak yatim. Kiai Enha memiliki dua definisi yatim.
Pertama, yatim karena ditinggal wafat oleh sang ayah. Kedua, anak-anak yang diyatimkan oleh keadaan seperti terjerat dalam kemiskinan dan anak-anak yang sejak lahir pada kondisi broken home.
Sesuai namanya, Istana Yatim ini dibuat secara khusus untuk memberikan motivasi hidup kepada anak-anak yang sudah tak memiliki orangtua atau yang masih memiliki orangtua tapi kurang memperhatikan pendidikan sang anak.
Asal-usul Istana Yatim ini menarik untuk diulas. Diungkapkan salah seorang guru di sana, Muhammad Shofiyulloh bahwa Istana Yatim atau Pesantren Motivasi Indonesia ini merupakan kado cinta dari Kiai Enha untuk sang istri, Ny Hj Nunung Umi Kalsum.
Kedua sejoli ini yang kemudian membahasan panggilan untuk mereka, ayah dan bunda. Sebuah panggilan keintiman yang sangat sulit ditemukan bagi anak-anak yatim. Sementara guru-guru di sana dipanggil dengan sebutan "Kak".
Istana Yatim benar-benar dijadikan rumah bagi segenap santri yang sebagian besar ditinggal wafat orangtua kandungnya. Dengan demikian, anak-anak yatim itu mendapatkan kembali kehangatan keluarga yang belum pernah atau tidak didapatkan sebelumnya.
"Di malam pertama pernikahan Ayah Enha bertanya ke Bunda Nunung soal keinginan yang mesti dipenuhi. Bunda menjawab ingin punya rumah di dalamnya ada anak-anaknya Rasulullah," jelas Kang Opi, sapaan akrab Muhammad Shofiyulloh, dihubungi NU Online pada Rabu (14/10) malam.
"Bunda mah nggak minta rumah yang bagus. Karena yang penting di dalam rumah itu, seberapa pun besarnya, ada anak-anak yatim. Bunda mau ngalap berkah sama anak yatim," tambah Kang Opi. Di masa awal pernikahannya, Kiai Enha tinggal bersama ayahanda, Buya KH Muhali bin H Abdul Muthalib di Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur.
Bertahun-tahun, ia ditahan agar tidak segera pindah rumah. Buya Muhali kemudian memberikan banyak sarat agar anaknya yang satu ini tak buru-buru meninggalkan Kampung Sumur. Misalnya, Kiai Enha diminta untuk terlebih dulu memiliki rumah agar tidak mengontrak.
"Selain itu, Ayah juga diminta sama Buya harus mencarikan pengganti dirinya untuk mengurusi sekolah dan majelis taklim di Kampung Sumur," tutur Kang Opi. Secara perlahan, Kiai Enha akhirnya dapat juga meyakinkan Buya Muhali untuk bisa pindah rumah dan mengembangkan dakwahnya. Bahkan, mewujudkan keinginan sang istri: membangun Istana Yatim. "Nah, akhirnya Kiai Enha pindah rumah ke Jatiasih. Di sinilah Istana Yatim mulai terbentuk," tutur Kang Opi.
Di Jatiasih, yang menjadi rumah baru Kiai Enha, merupakan cikal-bakal berdirinya Istana Yatim. Di sana, dibuat majelis taklim dan setiap Jumat anak-anak disantuni; diberi makan dan uang.
"Mungkin itu cara Ayah untuk ngalap berkah dari anak yatim, karena beliau bersama istri pernah mengalami kesulitan. Tapi itulah ujiannya. Ujian untuk terus istiqamah. Istiqamah menyantuni yatim," tambah Kang Opi. Hidup dua sejoli pecinta anak yatim itu semakin terpuruk dan mendapat ujian yang lebih berat, saat Kiai Enha memutuskan untuk mengundurkan diri dari status Pegawai Negeri Sipil (PNS, sekarang ASN) di Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai penghulu. "Itulah titik tersulit Ayah Enha," timpal Shobur, salah seorang guru di Pesantren Motivasi Indonesia, selain Opi.
Di saat-saat tersulit itu, Buya Muhali kemudian memberikan sebidang tanah kepada Kiai Enha untuk dikembangkan menjadi ruang dakwah baru. Dalam suatu kesempatan bertemu dengan para santrinya, Kiai Enha bertutur, "Ayah tidak diwariskan harta-benda tapi cuma sebatas tanah 3000 meter untuk dibangun pesantren." Kiai Enha menjelaskan, pembangunan Istana Yatim sudah dimulai sejak 2011. Ketika itu, masih dalam bentuk saung bambu.
Peletakan batu pertama untuk mendirikan masjid dan asrama dilaksanakan pada 17 Februari 2012, sekaligus menjadi berdirinya Pesantren Motivasi Indonesia: Istana Yatim. "Pesantren ini tidak mungkin terwujud kalau tanpa bunda. Karena bunda adalah inisiator dari terbentuknya pesantren ini," kata Kiai Enha yang diceritakan ulang oleh Opi.
Di awal-awal berdirinya pesantren ini, terdapat sekitar 20 anak yatim yang menjadi santri pada generasi pertama. Mereka adalah anak yatim yang diboyong Kiai Enha dari Jatiasih untuk mondok di pesantren yang terletak di Kampung Cinyosog. Secara garis besar, Istana Yatim bisa terwujud dan berdiri lantaran cinta dari seorang suami untuk sang istri. Walau membawa embel-embel yatim, Kiai Enha tidak menerima atau bahkan menentang keras santunan-santunan yang kerapkali dilakukan, seperti misalnya di bulan Muharram atau pada saat Ramadan.
"Ayah menentang keras santri di sini disantunin dalam bentuk amplop yang diisi uang. Sebab perbuatan itu bukanlah bertujuan untuk menghibur atau mendidik, tapi justru seperti eksploitasi terhadap anak yatim," kata Opi, menyampaikan amanat Kiai Enha. Namun demikian, Istana Yatim tidak pernah menolak atau akan menerima berbagai pihak yang ingin menyantuni dalam bentuk pemberdayaan. Misalnya dalam bentuk penguatan atau pengadaan infrastruktur dan alat-alat yang menunjang pendidikan bagi santri.
Pesantren-Schooling
Kiai Enha menjelaskan bahwa pada umumnya pesantren itu terdapat dua sistem, salaf (tradisional) dan khalaf (modern). Namun katanya, Istana Yatim atau Pesantren Motivasi Indonesia yang ia dirikan itu disebut sebagai pesantren modifikasi. "Ini hal baru di dunia pendidikan. Bisa juga disebut sebagai pesantren-schooling," tuturnya.
Telah jamak diketahui bahwa lembaga pendidikan yang sifatnya salaf berarti menganut sistem nonformal, tidak ada sekolah formal yang berjenjang. Berbeda halnya dengan lembaga pendidikan, dan juga pesantren, yang disebut khalaf yang biasanya terdapat madrasah atau sekolah yang juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum non-agama. Di Pesantren Motivasi Indonesia, di satu sisi menganut sistem salaf karena tidak meninggalkan tradisi kitab kuning dan kultur sebagaimana pesantren di kalangan Nahdlatul Ulama. Tidak ada ijazah formal karena juga tidak ada pendidikan formal yang berjenjang seperti sekolah.
Namun pada kenyataannya, di Pesantren Motivasi Indonesia ini juga memberikan berbagai pemahaman yang di luar dari tradisi pesantren salaf pada umumnya. Tidak melulu mengaji kitab kuning, tetapi juga ada pemberian pemahaman tentang pengetahuan umum. Selain itu, budaya yang dibangun pun berbeda dari pesantren-pesantren salaf. Di sana, sosok kiai bukanlah seorang yang terlalu jauh berjarak dengan santri. Oleh karena itu dipanggil dengan sebutan "Ayah". Sementara panggilan untuk Bu Nyai adalah Bunda.
"Para guru yang mengajar di sini juga tidak dipanggil ustadz atau ustadzah tapi kakak. Panggilan itu disematkan dalam aktivitas sehari-hari. Jadi hal itulah yang membangun sebuah kekeluargaan karena mayoritas adalah santri yatim dan yang diyatimkan oleh keadaan," jelas Kiai Enha.
Ditegaskan bahwa Pesantren Motivasi Indonesia menjadi sebuah antitesis atau perlawanan dari kapitalisme yang kerap melakukan komersialisasi terhadap lembaga pendidikan. Perlawanan itu dibuktikan dengan menggratiskan santri yatim, penuh selama enam tahun. Kiai Enha mencoba membuang persepsi bahwa kemewahan di dalam dunia pendidikan hanya diperuntukkan bagi orang-orang kaya.
Di Pesantren Motivasi Indonesia, lain cerita. Karena memberikan berbagai fasilitas mewah yang diberikan kepada para santri. Di sana terdapat seperangkat alat musik band, studio podcast, dan panggung pertunjukkan yang sangat megah. Setiap Sabtu malam, masing-masing kelompok santri, memperesentasikan penampilan menarik sebagai wujud pengembangan potensi diri. Di atas panggung itu, terlihat jelas sebuah jargon Hard Rock Cafe, Love All Serve All.
Demikianlah yang diwujudkan Kiai Enha dalam upaya mengembangkan Istana Yatim, selama ini. Mencintai kemanusiaan secara total dan melayani kemanusiaan juga dengan penuh sungguh. Baginya, dari jargon itu, menimbulkan spirit atau semangat yang sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 tentang kewajiban mencerdaskan anak bangsa.
Indikator SAHIH
Pesantren Motivasi Indonesia juga membangun karakter para santri dengan membentuk kelompok mentoring. Dikelompokkan berdasarkan dari jenjang kelas dan karakteristik yang berbeda.
Disusun berdasarkan tipe temperamen manusia yakni sanguinis, plegmatis, koleris, dan melankolis. Sementara untuk mengetahui keadaan dan perkembangan santri, digunakan sebuah instrumen bernama SAHIH. Spiritual, Attitude, Habit, Intelligence, dan Healthy (SAHIH). Spiritual dinilai bukan dari rajin ibadah. Melainkan nilai spiritual akan menjadi baik jika dibarengi dengan perilaku toleran terhadap kehidupan sosial yang beragam. Maka tak heran, jika Pesantren Motivasi Indonesia sering didatangi dan bersinergi dengan para pemuka, aktivis, dan umat dari agama lain. "Siapa pun tamu yang datang, santri harus melayani. Bahkan yang berbeda agama sekalipun.
Itulah spiritualitas yang kami ajarkan. Spiritualisme kemanusiaan," jelas Kiai Enha. Hal ini sejalan dengan attitude yang selalu diajarkan kepada santri di sana. Menurut Kiai Enha, sebaik-baiknya seorang santri dalam beribadah tidak menjamin akan baik attitude-nya. Justru kesadaran bersikap dan berbuat kepada semua orang itulah yang dapat menjadikan santri menjadi pribadi yang baik. Kemudian habit yang dapat diketahui dari keseharian santri. Seorang kakak guru diminta Kiai Enha agar tidak melulu melihat habit santri dari sisi keburukan saja tetapi juga harus mengawal kebiasaan baik santri untuk membantu mengembangkan karakter santri. "Malas itu kan bukan hal given atau turunan tapi harus dibimbing.
Kenapa harus diperhatikan? Jika habitnya buruk maka akan mempengaruhi attitude dan nilai spiritual itu menjadi buruk. Tapi ketiga itu tidak menjamin seorang santri memiliki nilai inteligensi atau kecerdesan," tutur Kiai Enha. Kemampuan belajar santri, menurutnya, bukan hanya didapat di ruang belajar. Namun, santri juga dibimbing untuk mengambil pelajaran dan setiap hal yang terjadi di dalam hidup. Peristiwa-peristiwa dan hikmah, kata Kiai Enha, tidak bisa didapatkan jika hanya menunggu di dalam ruang belajar. Terakhir, healthy atau kesehatan.
Hal ini menjadi penting diperhatikan agar para santri dapat terbentuk karakternya dengan baik. Jika kesehatannya buruk, maka keempat hal di atas itu tidak akan berfungsi secara maksimal. "Tetapi kesehatan di sini tidak hanya soal fisik, melainkan juga mental. Kalau mental sakit, otomatis semuanya menjadi sakit. Oleh karena itu, pesantren ini tidak hanya menyediakan sebatas fasilitas keagamaan tapi fasilitas olahraga dan alat penunjang kreativitas santri juga diperhatikan," kata Kiai Enha.
Pesantren sebagai penggerak ekonomi kerakyatan
Kiai Enha yang juga berlatar belakang sebagai pengusaha, berupaya menitipkan jiwa entrepreneur kepada para santrinya. Pesantren, baginya, bukan hanya berperan sebagai lembaga pendidikan agama semata, tapi harus menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. Para santri diajarkan bagaimana menggerakkan perekonomian. Perputaran uang terjadi dengan sangat baik di sana.
Sebab, kini telah didirikan sebuah minimarket di depan pesantren, yakni PMI (Pesantren Motivasi Indonesia) Mart. Mulai dari pengelola hingga pembeli adalah santri. Muhammad Shofiyulloh, seorang guru yang sekaligus menjadi Manager PMI Mart menuturkan bahwa PMI Mart didirikan sebagai sebuah ikhtiar untuk pengembangan usaha di pesantren.
Ia pun berharap, agar para santri dapat terus konsisten dan tetap tumbuh dalam mengembangkan keahlian di bidang usaha. Minimarket yang diresmikan pada 26 Agustus 2020 lalu dijadikan sebagai pendorong kemandirian ekonomi pesantren. "Saya berharap PMI Mart dapat menjadikan pesantren ini menjadi lembaga pendidikan Islam yang lebih mandiri dan berdikari secara ekonomi," katanya. Dalam sebulan, diperkirakan PMI Mart meraup omzet sebesar Rp30 juta. Ada banyak item yang dijual, di antaranya kebutuhan santri sehari-hari sebagaimana minimarket pada umumnya dan berbagai kitab kuning, buku pengetahuan umum, dan busana muslim. "Pembelinya santri, pengelolanya santri, hasilnya juga buat santri. Inilah ekonomi Pancasila," jelasnya.
Tak hanya itu, Pesantren Motivasi Indonesia juga memiliki kedai kopi yang dinamai sebagai CafeTrend (kafe pesantren). Terdapat berbagai varian kopi yang dilabeli Ngopi Santri. Brand ini juga yang menjadi nama diskusi setiap pekan. Ngopi Santri adalah kependekan dari Ngobrol Pemikiran dan Kesadaran Literasi. Para intelektual dan tokoh yang ahli di bidangnya, diundang untuk menjadi pembicara membahas seputar isu yang sedang berkembang dengan berbasis literatur yang mumpuni. Kini, untuk mencegah penyebaran dan penularan Covid-19, dibuatlah studio podcast untuk berdiskusi. Diskusi-diskusi itu kemudian ditayangkan Kanal Youtube PMI TV.
Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/123897/pesantren-motivasi-indonesia-istana-yatim-di-pelosok-bekasi?_ga=2.132422798.1254284426.1602891559-837308935.1577060440
Sebelum kita masuk ke analisis hukum, ada baiknya kita mencermati terlebih dulu sejumlah alasan yang dijadikan latar belakang (awjah) para nasabah tersebut dalam menjual tanah atau aset lain yang sudah dijadikan penjaminan kredit terhadap perbankan.
Berdasarkan hasil penelusuran dari beberapa jurnal penelitian, peneliti mendapati adanya beberapa motif penjualan aset jaminan ini oleh nasabah, antara lain:
Dari ketiga ketiga alasan ini, motif terakhir merupakan praktik yang secara jelas hukumnya: tidak diperbolehkan dalam syariat, sebab unsur penggelapan (tadlis).
Adapun untuk motif pertama dan motif kedua, dalam hal ini kita akan coba uraikan dengan mempertimbangkan sisi akad yang dibangun antara nasabah kredit terhadap perbankan lewat akad relasi akad yang berlaku atas perkreditan tersebut.
Status Barang Jaminan Kredit Perbankan Ketika seorang nasabah mengajukan kredit perbankan, maka umumnya pihak perbankan meminta sebuah aset untuk dijadikan sebagai jaminan. Hal semacam ini umum berlaku dalam beberapa perbankan konvensional.
Jika dalam perbankan syariah, keberadaan aset ini sebagai yang dibeli dulu oleh perbankan dengan praktik akad jual beli dengan janji akan dibeli lagi oleh penjualnya. Akad yang dipergunakan adalah akad bai' bi al-wafa. Disebut bai' bi al-wafa, karena akad ini identik dengan jual beli terhadap objek yang dijadikan jaminan pelunasan kredit.
Jika nasabah berhasil melunasi tanggungannya, maka barang yang dijadikan jaminan kembali kepada penjualnya. Namun, sebaliknya, jika nasabah tidak bisa melunasi utangnya, maka pihak kreditur (perbankan) bisa melelang aset yang sudah dibelinya untuk menutup utang nasabah, yang sejatinya telah berubah menjadi aset perbankan itu sendiri, sebab sudah dibeli. Akan tetapi, yang dibutuhkan oleh perbankan (selaku pelaksana jasa keuangan) adalah tidak berupa barang.
Setiap perbankan senantiasa membutuhkan aset dalam bentuk likuiditas, yaitu aset yang mudah dicairkan. Dan keberadaan aset ini harus ada dalam bentuk uang, dan tidak dalam bentuk barang.
Jika mencermati bagaimana akad bai' bi al-wafa' ini dilaksanakan, maka sejatinya kita bisa menangkap pesan bahwa seolah objek barang yang menjadi perantara antara nasabah dan perbankan tersebut, hakikatnya adalah termasuk jaminan kepercayaan atas dilunasinya utang (tautsiqah). Alhasil, dalam versi Syafi'iyah, akad bai' bi al-wafa' ini sebenarnya merupakan turunan dari akad gadai. Bolehlah kita sebut sebagai rahn hukman (secara substansi serupa gadai).
Meskipun pelaksanaannya melewati proses akad jual beli, namun karena hukum kepemilikan sempurnanya (milkun tamm) memiliki keeratan relasi dengan penebusan (pelunasan utang/wafa'u al-dain), maka secara tidak langsung akad tersebut adalah akad rahn (gadai).
Alhasil, barang jaminan kredit itu menempati derajat barang yang digadaikan (marhun). Sebagai barang gadai, maka segala ketentuan yang berlaku atasnya adalah mengikuti akad gadai (rahn)/versi Syafiiyah.
Hal-Hal yang berlaku atas Barang Gadai Gadai, secara syara' didefinisikan sebagai:
جعل عين مالية وثيقة بدين يستوفى منها عند تعذر الوفاء
"Menjadikan suatu barang fisik hartawi sebagai akad jaminan kepercayaan atas suatu utang yang akan dilunasi dengannya ketika pihak yang berutang merasa kesulitan untuk melunasinya" (Fathu al-Qarib al-Mujib, juz 1, halaman 172)
Oleh karena fisik barang tersebut berlaku sebagai jaminan pelunasan atas suatu utang, maka menjual barang jaminan hukumnya adalah tidak sah.
فبيع المرهون بغير إذن المرتهن لا يصح
"Menjual barang gadai tanpa seizin pihak pegadaian hukumnya adalah tidak sah" (al-Bayan fi al-Fiqh al-Imam Al-Syafi'i, jilid 6, h. 166)
Bagaimana jika utang itu lebih kecil dari harga barang yang digadaikan?
Al-Umrany menyampaikan:
وإن كان الدين المرهون به أقل من قيمة الرهن بيع من الرهن بقدر دين المرتهن، وكان للبائع أن يرجع في الباقي منها؛ لأنه لا حق لأحد فيما بقي منها، وإن لم يمكن بيع بعض الرهن بحق المرتهن إلا ببيع جميع الرهن، فبيع جميع الرهن وقضي حق المرتهن من ثمن الرهن، وبقي من الثمن بعضه
"Apabila utang gadai lebih kecil dari harga barang gadai itu sendiri, maka barang gadai dijual menurut kadar utang penggadai kepada pegadaian. Penjual bisa meminta kembali sisa dari hasil penjualan dikurangi utangnya, karena sisa tersebut tidak ada hak bagi seorang pun yang boleh menerima. Dan apabila pegadaian tidak mungkin untuk menjual sebagian dari barang yang digadaikan melainkan harus dijual semuanya, maka barang itu boleh untuk dijual seluruhnya, lalu pegadaian mengambil hak pemenuhan utangnya dari sebagian harga barang gadai itu, sehingga tersisa sebagian yang lain dari sisa penjualan yang diberikan kepada pihak penggadai" (al-Bayan fi al-Fiqh al-Imam Al-Syafi'i, jilid 6, h. 166).
Meski demikian, pendapat ini muaranya tetap sama, yaitu barang jaminan utang (barang gadai) adalah tidak sah dijual tanpa seizin pihak pegadaian (perbankan). Apabila hal itu dilakukan, maka pihak pegadaian/perbankan bisa mengambil kembali barang yang digadaikan secara paksa, khususnya apabila pihak penggadai (nasabah) mangkir dari kewajibannya melunasi utangnya.
Sebab, penjualan barang gadai (barang jaminan utang) tanpa seizin pihak bank adalah tidak sah (batal). Dengan kata lain, adanya jual beli adalah sama dengan tidak adanya (wujuduhu ka'adamihi).
Lain halnya, apabila setelah transaksi penjualan, kemudian pihak penggadai (nasabah kredit) segera melunasi utangnya di perbankan. Alasannya, ada atau tidak adanya penjualan barang jaminan oleh nasabah, pada akhirnya barang itu akan dijual juga oleh pihak pegadaian (bank) khususnya bila terjadi keterlambatan pelunasan.
Penjualan barang gadai yang harganya lebih mahal dibanding utang gadai yang diterima pihak nasabah, menjadi satu alasan bahwa sebagian dari barang tersebut adalah masih milik sempurna nasabah. Akan tetapi, karena barang itu merupakan barang milik bersama antara nasabah dan pegadaian, maka penjualan seluruhnya adalah dibolehkan, namun dengan catatan, pihak nasabah harus segera menutup tanggungannya di bank. Bila tidak, maka pihak perbankan bisa membatalkan akad jual belinya, mengingat secara fisik, barang tersebut telah dijadikan jaminan. Wallahu a'lam bish shawab.
Muhammad Syamsudin, S.Si., M.Ag, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/123856/bolehkah-menjual-tanah-yang-dijadikan-jaminan-kredit-di-perbankan-
Dalam kurun waktu kurang dari setahun, Allah SWT telah memanggil setidaknya 83 Ulama Nahdlatul Ulama dari berbagai wilayah di Indonesia, semoga para Ulama kita diampuni segala doosanya diterima seluruh amal perbuatannya dan di jauhkan dari azab siksa neraka.
Berikut daftar Ulama NU yang wafat selama tahun 2020:
اللهم اغفر لهم وارحمهم وعافهم واعف عنهم وأكرم نزلهم واغسلهم بالماء والثلج والبرد ونقهم من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس
اللھم أظلهم تحت ظل عرشك
يوم لاظل إلاظلك
اللھم طيب ثراهم وأكرم مثواهم وأجعل الجنة مستقرهم ومأواهم
وأجعل قبورهم نوراً وضياء
Hukum shalat berjamaah menurut mazhab Syafi’i adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan. Terdapat banyak hadits yang membincangkan tentang keutamaan shalat berjamaah. Di antaranya adalah hadits riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Umar sebagai berikut:
صَلاَةُ الجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
Artinya: Shalat berjamaah mengungguli daripada shalat sendirian dengan selisih pahala 27 derajat. (HR Bukhari: 645)
Karena saking tingginya derajat shalat berjamaah, beberapa orang merasa sayang jika sampai melakukan shalat sendirian tanpa berjamaah. Walaupun hanya mendapati tasyahud (tahiyat) akhirnya imam, orang akan berusaha bergabung meskipun hanya dapat waktu sedikit saja dari shalatnya imam.
Mengapa demikian? Sebab hal tersebut berpengaruh besar terhadap nilai-nilai pahala yang akan diperoleh. Tentu tidak akan sama antara orang yang ikut jamaah sejak awal dengan yang hanya mendapati salamnya imam saja. Lepas dari itu semua, masing-masing tetap dinamakan jamaah dan pahalanya dengan shalat sendirian selisih 27 derajat.
Bagaimana kalau ada orang yang mengejar ikut berjamaah, namun saat ia baru saja melakukan takbiratul ihram ternyata ia beriringan dengan salam imam? Shalat makmum ini tetap sah. Namun karena persis beriringan dengan imam, makmum tidak boleh turun menyusul imam duduk melakukan tasyahhud akhir.
ـ(مسألة: ب): أحرم والإمام في التشهد فسلم عقب إحرامه لم يجز له القعود لانقضاء المتابعة، فإن لم يسلم لزمه، فلو استمر قائماً بطلت إن تخلف بقدر جلسة الاستراحة اهـ
Artinya: "(Masalah: dikatakan oleh Abdullah bin Umar bin Abu Bakar bin Yahya). Ada seorang makmum melakukan takbiratul ihram sedangkan imam yang ia ikuti dalam posisi tasyahhud. Setelah makmum bertakbir, imamnya ternyata pas salam secara beriringan. Maka bagi makmum tidak boleh duduk menyusul kepada imam sebab gerakan imam yang harus diikuti oleh makmum sudah tidak ada lagi. Adapun apabila imam belum salam, ada sedikit waktu cukup, makmum harus segera menyusul tasyahhud imam. Kalau ia tetap berdiri, shalatnya batal jika jarak antara berdirinya makmum sampai menyusul duduk melebihi kadar kira-kira orang duduk istirahah shalat."
(Sayyid Abdurrahman Baalawi, Bughyah al-Mustarsyidin, Darul Fikr, [Beirut, 1994), halaman 119.
Maksudnya, apabila makmum takbir, sedangkan imam masih tasyahhud belum salam, makmum harus segera menyusul mengikuti tasyahhud imam. Kalau ia takbir, namun tidak segera turun (berdiri terlampau lama), shalat makmum bisa batal, sebab ia tidak segera bergabung pada gerakan imam yang ia maksud. Berarti kalau sudah takbir makmum tidak boleh menunggu lama.
Jarak lama yang dimaksud di sini adalah jarak kira-kira orang membaca tahiyyat paling cepat. Adapun menurut Imam Ibnu Hajar jaraknya adalah sekadar orang membaca doa duduk di antara dua sujud yaitu Rabbi ighfir li warhamni wajburni wa 'afini wa'fu anni.
Berbeda jika menurut Imam Ramli. Ia menyatakan jarak antara takbir dengan menyusul duduk adalah sekedar orang baca subhanallah. Jadi apabila ada orang takbir, imamnya tasyahhud, makmun tidak segera turun tasyahhud, shalatnya batal. Wallahu a'lam.
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/99685/ketika-takbiratul-ihram-makmum-berbarengan-dengan-salam-imam
Demikian disampaikan Direktur Instrukur dan Tenaga Pelatihan, Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Ditjen Binalattas) Kemnaker RI, Fauziah, saat menutup kegiatan Pelatihan Pengelolaan Administrasi Pelatihan Kerja untuk Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) yang digelar di Hotel Belviu, Bandung, Jumat (16/10) malam.
Para santri diyakini akan menjadi salah satu aktor yang membawa Indonesia menjadi negara maju, berkompeten, dan berdaya saing di kancah internasional. Sebab, mereka setiap hari selalu digembleng untuk membentuk soft skills seperti disiplin, terampil, berdedikasi, berakhlakul karimah, dan sebagainya.
"Soft skills sudah terbentuk dalam diri santri tinggal kita bangun skills mereka melalui BLK Komunitas di pesantren bapak-ibu semua," ungkapnya di hadapan 125 peserta pelatihan yang berasal dari berbagai pesantren yang ada di pulau Jawa dan Sumatra.
Dikatakannya, kehadiran BLK Komunitas di pesantren bisa memberikan kontribusi untuk menyeimbangkan soft skills dan skills yang ada dalam diri santri sehingga santri tidak lagi identik dengan orang yang bertaqwa dan berakhlak saja, melainkan juga memiliki kompetensi dan siap bersaing di dunia kerja.
"Jika hal ini mampu diwujudkan, saya yakin santri tidak akan lagi dipandang sebelah mata karena santri Indonesia adalah generasi terbaik di dunia," ujarnya disambut tepuk tangan hadirin. Bukan hanya itu, lanjut dia, kehadiran BLK Komunitas di pesantren juga bisa membawa berkah tersendiri bagi masyarakat. Sebab, masyarakat usia produktif yang ada di sekitar pesantren dan masih menganggur akan diajak dan diikutsertakan menjadi peserta untuk kemudian dilatih sesuai dengan kejuruan dan program yang sudah ditentukan.
Ditambahkannya, Badan Pusat Statistik (BPS) sudah memprediksi bahwa pada tahun 2030 nanti populasi Indonesia akan didominasi oleh masyarakat usia produktif dengan jumlah persentasi sekitar 60 persen. Hal ini tentu saja harus diimbangi dengan peningkatan kualitas masyarakat. "Bonus demografi ini harus kita siapkan mulai dari sekarang karena para santri nanti akan menjadi bagian dari 60 persen populasi ini," tandasnya.
Untuk itu, ia pun sangat berharap kepada para peserta yang telah mengikuti pelatihan ini agar bisa menerapkan dan mengamalkan ilmunya yang didapat selama kegiatan berlangsung.
"Kita sudah belajar dan dilatih selama seminggu untuk mengelola kegiatan pelatihan di BLK Komunitas. Tinggal nanti ilmunya diamalkan di tempat masing-masing karena pada tahun 2021 nanti Kemnaker akan memberikan 2 paket pelatihan," pungkasnya.
Ia pun menyampaikan bahwa selain melatih pengelola BLK Komunitas, saat ini Kemnaker sedang melatih calon instruktur yang akan berlangsung selama 47 hari. Kegiatan pelatihan ini tersebar di berbagai Balai Besar Latihan Kerja (BBLK) milik Kemnaker RI.
Kontributor: Aiz Luthfi
Editor: Musthofa Asrori
Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/123941/kemnaker-optimis-santri-akan-bawa-indonesia-jadi-negara-maju
| NO | NAMA | UTUSAN SATKORYON | JENJANG KADERISASI |
| 1 2 3 4 | Turyanto Triyanto Munawir Kholilurrahman Abdul Hamid | Lubuk Raja Sinar Peninjauan Lubuk Batang Lubuk Raja | DTD Susbalan Susbalan Suspelat |