Maulid Nabi Muhammad SAW masih terasa meriah di masyarakat Desa Batu Raden Kecamatan Lubuk Raja. Seperti yang terlihat kemarin (08/11) Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Muttaqin Dusun Gotong Royong 2 berlangsung meriah dengan lantunan Sholawat Nabi yang diiringi Grup Hadroh Nur Alawy dan dihadiri Jamaah Nahdliyin, Muslimat dan anak-anak TPA/TPQ Dusun Gotong Royong 2 serta Penceramah KH. Ahmad Subroto Hidayatullah yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Mubtadi’in Batumarta I sekaligus Mustasyar PCNU OKU.

Kemeriahan terlihat dari keikhlasan jamaah dalam memberikan infak dan sedekah, baik berupa nasi bungkus, nasi tumpeng, air mineral dan snack yang telah dihidangkan. Semoga keikhlasan berinfak dan sedekah jamaah ini menjadi wasilah dan lantaran diakui dan mendapatkan pertolongan Nabi Muhammad SAW di hari kiamat nanti, tutupnya.

Dalam Sambutannya, Ketua Takmir Masjid Al Muttaqin, H. Bunyamin mengungkapkan permohonan maaf kepada seluruh jamaah yang hadir karna kondisi saat ini yang masih pandemik covid 19, maka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dilaksanakan sederhana dan ala kadarnya. Namun insyaallah tidak akan mengurangi kesemarakan dan kemeriahannya seperti tahun-tahun sebelumnya.


Dalam ceramahnya, Gus Broto (demikian akrab disapa), mengajak seluruh jamaah untuk selalu gembira dan riang dan memperbanyak membaca shalawat dalam menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini. Sebab kegembiraan kita dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, setiap infak dan sedekah yang telah dikeluarkan sama halnya dengan infak sebesar gunung emas. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW harus menciptakan mahabbah kita sebagai umat.

Selanjutnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW harus selalu dilestarikan, karna pada hakikatnya Nabi Muhammad SAW adalah panutan dan suri tauladan seluruh manusia yang ada di dunia. Nur Muhammad lebih dulu diciptakan Allah SWT sebelum adanya para malaikat, langit, bumi dan alam raya ini, tuturnya.

Diakhir ceramah, Gus Broto mengingatkan kepada jamaah yang hadir untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan selalu beribadah. Itulah hakikat penciptaan manusia sebagaimana yang termaktub dalam  Al Qur’an , “Dan Aku tidak men ciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya  beribadah  kepadaku” (QS. Adz Dzariyat:56),  tutupnya.

(Yyn/F-Wtk)

November 07, 2020

Guna melengkapi struktur Organisasi NU dan juga melanjutkan dakwah hingga ke penjuru desa, Kemarin (06/11) Jajaran Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Sinar Peninjauan menyerahkan SK kepada Pengurus Ranting NU Desa Marga Mulya. Penyerahan SK ini dirangkai dengan kegiatan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 H. 




Dalam Sambutannya Rois Syuriah MWC NU Sinar Peninjauan, H. Zainudin berharap kepada Pengurus yang telah menerima SK, untuk selalu ikhlas dalam menjalankan amanah ini. Segala pekerjaan kalau dikerjakan dengan keikhlasan maka akan mudah, tuturnya.



Pengurus NU harus siap lahir batin mengurusi NU bukan malah jadi "urusan" bagi pengurus. Menjadi pengurus NU berarti telah berkhidmat kepada Islam. Tentu dengan tidak mempermasalahkan dimana posisi kita berada. Intinya khidmat kita ini insya Allah akan menjadikan kita diakui sebagai Santri dari KH. Hasyim Asy'ari, tegasnya.


Zainudin juga mengajak kepada Pengurus NU dan Jamaah yang hadir, untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan dakwah. Mohon kepada pengurus yang baru untuk selalu menjalin komunikasi dengan MWC NU Sinar Peninjauan. Termasuk dalam Program KOIN NU yang telah dilaunching beberapa hari yang lalu, tutupnya.   


Kontributor: Adi Sucipto
editor: Yoyon M Asfai

November 03, 2020

Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) meluncurkan program (Kotak Infak) KOIN NU, Ahad (01/11). Bertempat di Lapangan Blok H Desa Persiapan Sinar Bhakti. Peluncuran program ini dilaksanakan bersamaan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 H dengan Penceramah KH. Bashori dari Lampung.

Kegiatan ini  dihadiri oleh seluruh pengurus baik Tanfidziyah maupun Syuriyah MWC NU Sinar Peninjauan dan seluruh Ranting se-Sinar Peninjauan, Pengurus LBM, Jatman, Muslimat NU, Ansor-Banser, Fatayat  dan Jamaah Sholawat. 

Ketua MWC NU, Kyai Ahmad Sofari dalam sammbutannya menyampaikan bahwa sudah saatnya Nahdlatul Ulama khususnya yang ada di Kecamatan Sinar Peninjauan  menjadi solusi bagi masyarakat, terutama dalam kemandirian ekonomi.

Untuk itulah Program Koin NU ini kita luncurkan, harapannya semoga dengan ikhtiyar ini, baik Jamaah maupun Jam'iyah NU semakin jaya dan mandiri ekonominya, tuturnya. 

Sofari juga mengajak kepada seluruh Pengurus Ranting yang telah menerima SK, untuk berlomba-lomba dalam kebaikan terutama membesarkan Jam'iyah NU di Sinar Peninjauan dengan Koin NU ini. Karena KOIN NU ini dari NU, oleh NU dan untuk NU pula, tutupnya.




Musabaqoh Qira’atul Kutub (MQK) tingkat Provinsi Sumatera Selatan yang dilaksanakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumsel diikuti oleh seluruh Kabupaten Kota lingkup Sumatera Selatan bertempat di Pondok Pesantren Hidayatul Fudhola, Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin dari tanggal 30-31 Oktober 2020.

Peserta MQK dari Batumarta

MQK dibuka langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan H.Herman Deru (31/10/20) dan dihadiri unsur Muspida, dan Pengurus PCNU Kabupaten/Kota se-Sumsel.

Sebagaimana kita ketahui, Musabaqah Qira'atul Kutub (MQK) yang digelar ini merupakan  ajang olimpiade untuk para santri dari pondok pesantren di wilayah Sumatera Selatan. Dalam  MQK, masing-masing santri menunjukkan kemampuannya dalam membaca teks kitab kuning sebagai khasanah klasik yang  menjadi rujukan umat Islam. 

Adapun aspek penilaiannya, selain membaca dan memahaminya, para santri juga harus mengartikulasikan lagi dan mejelaskannya di depan dewan hakim.

Pada kesempatan terpisah, Official Santri OKU, Gus Broto mengungkapkan, sesuai yang tercantum dalam rekomendasi PCNU OKU, MQK kali ini Kabupaten OKU mengirimkan 12 santri sebagai peserta dan 2 orang official.

Menurut dia, digelarnya MQK juga sebagai ajang untuk memasyarakat kitab kuning ke dunia luas, khususya masyarakat umum bahwa kitab kuning merupakan khasanah keilmuan yang luar biasa yang harus dijaga dan pelihara.

Apalagi, lanjut dia, kitab kuning hakekatnya merupakan rujukan utama sejak dulu dalam memahami Alquran dan hadist.

Alhamdulillah diluar dugaan santri-santri dari OKU tidak kalah bersaing dengan Kabupaten lain. Buktinya utusan kita masih mendapatkan juara di cabang Kitab Al Jurumiyah. Yakni atas nama M. Afriyansyah sebagai Juara satu dalam kategori Putra pada cabang Kitab Al Jurumiyah. Sedangkan Diva Apriliyani keluar sebagai Juara dua kategori Putri pada cabang kitab Al Jurumiyah juga, tutupnya.

Kontributor: Yyn
Editor: F-Wtk

Peringatan Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Al-Falah mencapai puncak paripurna diiringi lantunan Doa dan Istighosah Kubro, Kamis malam (22/10/2020) yang langsung di pimpin oleh KH. Syairudin.


Berkah gerimis mengiringi jalannya acara yang dimulai pukul 20:00 WIB, dihadiri oleh Jajaran Pengurus Cabang NU Kabupaten OKU, diamankan oleh personil Banser, dimeriahkan oleh kehadiran seluruh Santriwan Santriwati dan diramaikan oleh kehadiran warga setempat.

Kiayi Syafaat Ariful Huda selaku Mustasyar PC NU Kabupaten OKU memberikan pemaparan singkat mengenai apa yang menjadi ciri khas dari warga Nahdliyin melalui Pondok Pesantren.

"NU dibangun dan digerakkan oleh Pondok Pesantren yang melahirkan Jamiyah Nahdlatul Ulama, beberapa ciri khasnya yaitu pembacaan Sholawat, Al-barzanji, Manaqib, yang menjadikan Syari'at hanya jamiyah NU. Amalan Syar'i dan Sunnah tolong diamalkan dan pertahankan, karena ini tuntunan para ulama kita, dan kesemuanya bisa ditempuh dalam pendidikan yang sah, diajarkan oleh para kiayi-kiayi kita dan guru-guru kita. Pertahankan dan ikuti jejak para ulama agar selamat dunia akhirat.", pungkasnya (22/10/2020).

Selanjutnya KH. Softwan Syihab selaku Rais Syuriyah PC NU Kabupaten OKU juga menyampikan dan menekankan bahwa adanya perbedaan yang sangat mendasar antara sekolah umum dan pondok pesantren.

"Ilmu pesantren itu beda dengan sekolah formal, salah satu keunggulan ilmu pesantren menitik beratkan pada pembelajaran Adab (tata krama). Sehingga jangan cuma lulus Aliyah, teruskan ngajinya supaya ilmu tidak setengah matang, ibaratkan Ubi rebus dimasak setengah matang, dimakan bikin kembung tidak dimakan jadi sia-sia." ucapnya (22/10/2020).

Dalam kesempatan yang sama, Sularno selaku Kepala Desa Lekis Rejo juga menyampaikan bahwa pentingnya peran pondok pesantren bagi keberlangsungan NKRI.


"Peran pesantren sangat besar dalam pembangunan NKRI, Jangan hanya pamit mondok, orang tua kalian mengharapkan kalian jadi anak yang sholeh dan sholehah. semoga kita semua dihindarkan dari virus corona, semoga kita semua diberi kesehatan dan dilindungi oleh Allah SWT.", pungkasnya (22/10/2020).

Berlangsungnya acara ini tak lepas dari peran serta seluruh Panitia dan Majelis Ngopi Aswaja, sebagai simbolis wujud takdim kepada para Kiayi, Majelis Ngopi Aswaja yang diwakili oleh Saudara Suyitno memberikan Cinderamata kepada KH. Syairudin.


Akhir acara, pantia pelaksana telah menyiapkan hidangan yang menjadi khas pondok pesantren Al-Falah yaitu "SOP Daging Kambing", seluruh peserta dipersilahkan makan bersama dalam keharmonisan dan kehangatan warga Nahdliyin ternaungi kibaran bendera Nahdlatul Ulama.

Selamat Hari Santri Nasional, Santri Sehat Indonesia Kuat.

(F-Wtk)  

22 Oktober menjadi hari yang berbahagia bagi seluruh Santri di Indonesia, pasalnya pada tanggal ini merupakan momentum bangkitnya gerakan dan semangat pemuda yang dipelopori oleh para santri dan ulama.

Hari Santri Nasional telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 pada 15 Oktober 2015, ini merupakan supremasi perjuangan para santri dan ulama pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Hal ini menjadi dasar terlaksananya Upacara Peringatan Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Al-Falah Desa Lekis Rejo, langsung di pimpin oleh KH. Syairudin selaku Pimpinan Pondok Pesantren.


Peserta upacara yang terbatas tidak menjadikan hilangnya hikmat dalam acara tersebut, keterbatasan peserta ini dikarenakan belum stabilnya situasi dan kondisi akibat pandemi Corona beberapa bulan terakhir ini.

Setidaknya hadir secara lengkap dan mewakili, mulai dari jajaran Pengurus Cabang NU Kabupaten OKU, Pengurus MWC NU Lubuk Raja, jajaran Personil Pimpinan Cabang GP. Ansor, Banser, Pagar Nusa NU dan seluruh Santri pondok Pesantren Al-Falah.

Dalam pelaksanan upacara tersebut seluruh peserta telah mematuhi Prosedur Protokol Kesehatan yang ditetapkan oleh Pemerintah.


Dalam kesempatannya KH. Syairudin menyampikan pesan motivasi kepada seluruh peserta upacara bahwa tetap semangat menjadi santri karena hampir seluruh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia adalah Santri dan Ulama.

"Tetap semangat menjadi santri, karena semangat para santri lah yang menjadi pemicu semangat mempertahankan kemerdekaan 10 November 1945 lewat Momen pencetusan Fatwa Resolusi Jihad NU oleh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945." Tegasnya (22/10/2020).

Beliau juga menyampaikan bahwa hampir seluruh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia adalah Santri dan Ulama, sehingga hal ini patut untuk diteladani sebagai motivasi kebangkitan semangat para santri untuk lebih optimis dalam mengisi kemerdekaan.

"2/3 Pejuang kemerdekaan adalah Santri, maka dari itu Santri harus Sehat Jiwa dan Raga, karena jika Santri Sehat Indonesia Kuat", pungkasnya.


Santri adalah masa depan Bangsa, harapan Bangsa, semangat para Santri dalam mengisi kemerdekaan ini akan merubah kondisi Indonesia menjadi Indonesia yang lebih baik lagi dimasa sekarang dan masa mendatang.

Selamat Hari Santri, Santri Sehat Indonesia Kuat!

Kontributor: Ali .M
Editor: F-Wtk

Rangkaian pertanyaan yang disusun oleh orang-orang yang anti-peringatan Maulid Nabi agar pengamalnya terdiam kalah dalam beradu argumentasi atau menjadi ragu akan kebolehan memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ. 


Pertanyaan ini sukses menipu banyak orang awam sehingga mereka menyangka bahwa Maulid Nabi adalah bid’ah yang terlarang. Rangkaian pertanyaan jebakan tersebut sebagai berikut:
  1. Apakah Maulid Nabi merupakan ketaatan ataukah maksiat? Lumrahnya yang ditanya akan menjawab: “Maulid adalah ketaatan”.
  2. Apakah Nabi mengetahui ketaatan tersebut atau tidak mengetahui? Di sini penanya mencoba mengarahkan pada salah satu jawaban saja. Bila yang ditanya menjawab bahwa Nabi tidak mengetahuinya, maka berarti dia menganggap Nabi bodoh dan tak mengerti soal ketaatan pada Allah. Akhirnya yang ditanya tak punya pilihan kecuali menjawab: “Nabi mengetahuinya”.
  3. Bila Nabi mengetahuinya, maka apakah Nabi menyampaikan soal itu ataukah tidak? Dari sini yang ditanya terjebak dalam dilema. Bila dia menjawab bahwa Nabi tak menyampaikan soal itu berarti sama saja menuduh Nabi tak menyampaikan ajaran Islam, ini mustahil. Namun bila dia menjawab bahwa Nabi menyampaikannya, maka dia akan dituntut untuk menunjukkan ayat atau haditsnya, dan itu tak mungkin ada. Sampai pada titik ini, jebakan orang anti maulid ini berhasil membuat pengamal maulid kebingungan.
Sebenarnya rangkaian pertanyaan di atas sangat lemah bahkan sama sekali tak berdasar. Pertanyaan itu hanya menipu orang-orang awam yang kurang memahami ilmu fiqh atau ilmu ushul fiqh. Begini dua cara untuk mematahkan rangkaian pertanyaan jebakan tersebut:

Cara pertama:
Bila ditanya apakah maulid Nabi merupakan ketaatan atau maksiat? Dijawab saja bahwa ketaatan berarti melakukan perintah yang ada sebelumnya. Imam al-Jurjani menjelaskan:

الطاعة: هي موافقة الأمر طوعًا
“Taat: adalah melaksanakan perintah secara sukarela.” (al-Jurjani, at-Ta’rîfât, halaman 140)

Seperti halnya ketika Allah memerintahkan untuk shalat, maka mengerjakan shalat adalah ketaatan sedangkan meninggalkan shalat adalah maksiat atau pembangkangan terhadap perintah tersebut. Adapun maulid Nabi tidak diperintah secara khusus sehingga melakukannya tak termasuk dalam kategori ketaatan tetapi tak termasuk pula dalam kategori maksiat sebab tak ada aturan yang dilanggar. Peringatan maulid bukanlah ibadah mandiri tetapi statusnya sama dengan segala bentuk tradisi (‘adah) manusia yang tak diperintah secara khusus tetapi tak juga melanggar aturan syariat, seperti menyelenggarakan rapat, seminar atau kajian mingguan atau bulanan. Tradisi-tradisi seperti itu hukum asalnya adalah netral (mubah), namun secara fiqih bila ternyata isi dan tujuan acaranya baik maka akan dihukumi sebagai kebaikan dan sebaliknya bila isi dan tujuannya negatif maka akan dianggap terlarang.

Dengan demikian, pertanyaan pertama tersebut yang hanya menyediakan dua opsi antara ketaatan dan maksiat adalah pertanyaan yang terbukti salah sehingga harus ditolak. Pertanyaan selanjutnya otomatis gugur dengan sendirinya.

Cara kedua:
Bila ditanya apakah maulid Nabi merupakan ketaatan atau maksiat? Dijawab saja bahwa maulid merupakan ketaatan dalam arti tindakan yang menimbulkan pahala sebab berisi kebaikan, meskipun tak mempunyai perintah yang khusus. Lalu bila ditanya apakah Nabi mengetahuinya atau tidak? Maka dijawab saja bahwa Nabi mengetahuinya.

Bila ditanya apakah Nabi menyampaikannya atau tidak? Maka dijawab saja bahwa Nabi telah menyampaikan seluruh risalahnya tanpa terkecuali, hanya saja penyampaian Nabi Muhammad terhadap risalah dilakukan dengan dua cara, yakni: Disampaikan secara literal dengan nash (teks ayat atau hadits) yang spesifik atau disampaikan secara global dengan isyarat atau dalil-dalil yang bersifat global. Imam an-Nawawi menjelaskan:

وقد قال الله تعالى ما فرطنا في الكتاب من شيء ومعناه أن من الأشياء ما يعلم منه نصا ومنها ما يحصل بالاستنباط

“Allah Ta’ala telah berfirman: “Tak ada sesuatu pun yang Aku luputkan dari al-Qur’an”, maknanya bahwa sesungguhnya terdapat hal-hal yang diketahui secara tegas berupa nash dan ada pula yang dihasilkan dengan cara penggalian hukum (istinbat).” (an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘Ala Muslim, juz XI, halaman 88)

Nah, peringatan Maulid Nabi tergolong hal yang tak ada nash-nya secara spesifik namun bisa masuk dalam cakupan kategori dalil-dalil global, misalnya: Dalam QS. Yunus: 58, Allah memerintahkan manusia untuk bergembira atas rahmat yang diberikan Allah sedangkan dalam QS al-Anbiya: 107 ditegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah rahmat bagi seluruh alam. Dengan demikian, maka bergembira atas keberadaan Nabi di dunia merupakan hal yang sesuai dengan perintah bergembira dalam QS. Yunus: 58 tersebut.

Dalil umum lainnya adalah tindakan Rasul yang memperingati hari kelahirannya setiap Senin dengan puasa adalah bukti bahwa momen kelahiran beliau layak diperingati. Dan banyak dalil-dalil lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan dalam artikel ini yang kesemuanya dapat menjadi patokan penggalian hukum (istinbath) terhadap hukum peringatan Maulid Nabi.

Dengan jawaban seperti di atas, penanya yang bermaksud menjebak itu akan kebingungan sebab mau tak mau dia harus mengakui bahwa memang tak semua hal ada nash-nya. Kesalahan pertanyaan itu makin jelas ketika logika itu dipakai pada seluruh hal lain yang tak ada nash-nya. Hasilnya semua akan berstatus haram, meskipun sebenarnya sunnah atau bahkan wajib sekalipun; 

Pembukuan Al-Qur’an menjadi satu mushaf seperti sekarang, penulisan hadits Nabi beserta seluruh ilmu hadits, pendirian lembaga pendidikan Islam, penambahan azan shalat Jumat di masa Khalifah Utsman, penambahan harakat dan titik dalam mushaf, bahkan kebiasaan penduduk Makkah saat ini yang berkumpul secara massal tiap malam 27 Ramadhan saja untuk memburu Lailatul Qadar, dan seluruh hal yang tak ada di masa Rasul akan menjadi haram tanpa kecuali sebab itu semua adalah ketaatan yang kita tak punya pilihan kecuali dianggap “diketahui Rasul” tetapi tak sekalipun Rasulullah menyampaikannya kepada kita dengan instruksi nash yang spesifik tentang itu. Namun tentu saja mengharamkan seluruh hal tersebut adalah tindakan konyol sehingga penanya tersebut harus mengakui bahwa teorinya salah total. Wallahu a'lam.

Sumber: nu.or.id

Kongres Nasional Ansor akan dilaksanakan pada Oktober 2021 nanti resmi akan dilaksanakan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Provinsi Sumatera Selatan.


Perihal ini terbuka ketika Bupati Musi Banyuasin yang juga Ketua Dewan Pembina GP Ansor Sumsel Dr. Dodi Reza Alex Noerdin, Lic Econ MBA beraudiensi dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas, Sabtu (17/10/2020), pertemuan kedua orang ini merupakan dua Tokoh Pemuda Nasional yang sama-sama kader Nahdlatul Ulama (NU).

“Insya Allah Muba siap menjadi tuan rumah kongres Ansor Nasional 2021, mohon doanya dari semua untuk kelancaran dan kesuksesan acara tersebut,” pungkas Dodi Reza yang juga mantan Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

“Keluarga besar saya mengalir darah NU, Kakek saya Noerdin Pandji merupakan salah satu pendiri NU di Sumsel, sangat pantas dan terhormat bagi Muba bisa andil turut menyukseskan Kongres Nasional Ansor nantinya,” ucapnya.

Dijelaskan Dodi, dalam rangkaian Kongres Nasional GP Ansor di Muba nantinya juga akan melaksanakan pemilihan Ketua Umum PP Ansor.

“Peserta cabang seluruh Indonesia jumlah 416 Kabupaten dan masa yang akan hadir kurang lebih 5.000 peserta,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, sudah sangat tepat memilih Muba sebagai tuan rumah pelaksanaan Kongres Ansor Nasional.

“Muba ini Kabupaten yang hebat, punya fasilitas yang lebih dari cukup, apalagi Bupati-nya Ketua Dewan Pembina GP Provinsi Sumsel,” ucapnya.

Gus Yaqut berharap, pelaksanaan Kongres Ansor Nasional nantinya berjalan lancar dan semua peserta Kongres bisa khusyuk mengikuti rangkaian Kongres.

“Kita berdoa semoga lancar dan Muba akan menjadi contoh terbaik tuan rumah Kongres Ansor Nasional sepanjang masa,” pungkasnya.

Ketua PWGP Ansor Sumsel, Ahmad Zarkasih S.HI M.M menambahkan siap lahir batin untuk mensukseskan agenda Ansor nasional jika diselenggarakan di Sumsel. “Insya Allah kami siap lahir batin,” pungkasnya.

Pada kesempatan pertemuan tersebut, Bupati Muba Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA turut didampingi Kabag Kesra Muba Opi Palopi dan Ketua PW Ansor Sumsel Zarkasih SHI MM yang juga Wakil Ketua DPRD Banyuasin.

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial keagamaan yang beraqidah Islam sesuai paham Ahlusunnah wal Jama'ah (Aswaja). Dalam bidang aqidah, NU mengikuti madzhab Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Iman Abu Mansur al-Maturidi. Di bidang fiqh mengikuti salah satu dari madzhab empat yaitu: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Di bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam al-Junaidi al-Bagdadi dan Imam Abu Hamid al-Ghazali.

Paham Aswaja itulah yang senantiasa dipertahankan, dilestarikan, dikembangkan serta diamalkan oleh segenap warga Nahdliyin. Paham tersebut dikenal sebagai Aswaja an-Nahdliyah. Setiap warga Nahdliyin harus mengerti dengan baik paham Aswaja an-Nahdliyah. Agar segenap perikehidupan warga Nahdliyin mencerminkan karakter tawassuth, tawazun, i'tidal, dan tasamuh. Yaitu karakter muslim kamil yang mampu tampil sebagai pengejawantahan kasih sayang bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin). Untuk itu, upaya penguatan paham Aswaja an-Nahdliyah kepada warga Nahdliyin menjadi strategis dilakukan secara berkesinambungan. 

Pembinaan organisasi dan penguatan paham Aswaja an-Nahdliyah itu disampaikan oleh Katib Syuriah PCNU OKU; Mukti Riadi, SST, SSi, SE, M.Si, dalam pengajian rutin Muslimat NU yang diselenggarakan di Masjid Al-Falah Desa Batu Raden, Lubuk Raja (Minggu, 18/10/2020).


Dalam kesempatan pengajian yang dihadiri lebih dari 200 jamaah itu, Mukti menegaskan: “Tugas utama pengurus adalah memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah. Pengurus jangan minta dilayani. Namun, layanilah jamaah agar suara kita didengar. Ajakan kita diikuti. Semua kita, jangan pernah berhenti belajar. Karena tantangan kehidupan dan organisasi Muslimat NU ke depan semakin dinamis. Besarkan Muslimat NU ini dengan melipatgandakan kemanfaatannya di tengah-tengah masyarakat”.

Mukti juga menjelaskan bahwa Muslimat NU sebagai badan otonom NU memiliki tanggung jawab dalam mempertahankan dan menyebarluaskan paham Aswaja an-Nahdliyah di masyarakat. Dalam berhukum paham Aswaja an-Nahdliyah bersumber pada Al-Qur’an, al-Hadits, Qiyas dan Ijtima’ ulama. Hal itu melekat langsung pada setiap kata dalam istilah Ahlisunnah wal Jamaah yang terdiri dari tiga suku kata. 

Dikatakan oleh Mukti; “Kata ahlun dapat diartikan dengan keluarga, ahli atau pengikut. Kata sunnah merujuk pada pengertian semua perbuatan, perkataan maupun ketetapan Rasulullah SAW. Kata wal Jamaah mengandung makna kumpulan orang-orang yang memiliki kesetiaan dan tujuan yang sama. Yakni hanya bertujuan menggapai redlo Allah SWT dalam panji Islam. Adapun yang dimaksud wal Jamaah adalah para pengikut setia Rasulullah SAW mulai para khulafaur rosyidin, sahabat, tabiin, tabiit tabiin dan para ulama yang hanif. Maka, dengan mengikuti paham Aswaja berarti kita menjadi pengikut setia sekaligus pembela ajaran Rasulullah SAW hingga yaumil akhir kelak”.


Dalam hal pengelolaan organisasi, Mukti menekankan pentingnya pembinaan dan kaderisasi. Jajaran pengurus Muslimat NU harus proaktif membentuk struktur kepengurusan hingga ke bawah, yaitu Pimpinan Wakil Cabang, Pimpinan Ranting dan bila memungkinkan Pimpinan Anak Ranting. 

Dengan demikian gerak organisasi semakin luas dan memiliki struktur serta jejaring yang handal. Kata kunci keberhasilan berorganisasi manakala semua pengurus dan anggota memiliki tujuan yang sama. Tidak bergerak dan bertindak untuk dan atas nama kepentingan pribadi. 

“Pengurus harus memahami 6M agar sukses berorganisasi, yakni men (Sumberdaya manusia yang komit, jujur dan handal), money (pengelolaan dana/anggaran yang bertanggung jawab), method (strategi pencapaian tujuan), material (sarana-prasarana pendukung), minute (target waktu yang relevan) dan market (karakter jamaah yang dilayani). Inventarisasi semua potensi yang dimiliki. Jawab semua permasalahan dan tantangan secara terukur dan terstruktur”, seru Mukti.


Dalam kesempatan tersebut, Mukti sempat mengajukan pertanyaan: “Taukah ibu-ibu mengapa NU menggunakan lambang Bintang Sembilan?” Tanpa menunggu jawaban jamaah, Mukti pun menjelaskan: “Ada dua makna. Makna pertama, lima bintang di bagian atas melambangkan Rasulullah (bintang paling besar) dan 4 sahabatnya (Saidina Abu Bakar bin Shidiq RA, Saidina Umar bin Khotob RA, Saidina Ustman bin Affan RA dan Saidina Ali bin Abi Thalib RA). Sementara 4 bintang di bagian bawah melambangkan 4 Imam Madzab (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali). Makna kedua, kesembilan bintang tersebut melambangkan wali sanga sebagai pembawa Islam pertama ke bumi Nusantara”. Wallahu a’lam.

Diharapkan seluruh kader pengurus NU di Kabupaten OKU mampu memahami tugas pokok dan fungsinya dalam menjalankan roda organisasi, sehingga kiprah NU bisa lebih dirasakan oleh masyarakat yang mayoritas penganut Aswaja.

Lamanya berorganisasi tidak akan menjadi penentu majunya sebuah organisasi tersebut apabila dasar pemikiran dan kaidah-kaidah serta tupoksinya tidak dipahami dan dilaksanakan secara nyata.

Editor: F-Wtk

Dalam rangka menyambut hari lahir kekasih Allah SWT, Junjungan kita semua Nabi Agung Muhammad SAW, Muslimat NU di OKU melaksanakan Khotmil Qur'an atau Khataman Qur'an yang langsung dibuka oleh KH. Sofwan Syihab selaku Rais Syuriyah PCNU Kabupaten OKU.

Seperti diberitakan sebelumnya bahwa Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) telah mengikhbarkan awal bulan Rabiul Awal 1442 H jatuh pada Ahad (18/10).



Seyogiyanya Maulid Nabi Muhammad SAW atau 12 Rabiul Awal 1442 diperingati pada Rabu (28/10) malam, namun kecintaan terhadap Auliya' kekasih Allah SWT ini tak dapat dibendung oleh Mayoritas warga Nahdliyin khususnya di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Gema Khotmil Qur'an Muslimat OKU yang dilaksanakan pada Minggu (18/10) berlokasi di Masjid Al-Falah Desa Batu Raden Kecamatan Lubuk Raja membawa nuansa tersendiri bagi jajaran pengurus NU di Kabupaten OKU khususnya Banom Muslimat yang notabene merupakan jajaran pengurus baru.



Acara yang dihadiri kurang lebih 200 orang Muslimat ini dihadiri pula oleh jajaran Pengurus Cabang NU Kabupaten OKU, diantaranya Kiai Syafaat Ariful Huda selaku salah satu Mustasyar, Kiai Mukti Riyadi, S.ST., S.Si., SE., MSi. selaku Katib, Ust. Maksum selaku A'Wan dan dihadiri pula oleh Bapak Drs. Supriono, MM. selaku Wakil Ketua Tanfidziyah dan Edy Basuki selaku Bendahara Tanfidziyah.



Dalam acara ini beberapa Muslimat di daulat untuk membaca Ayat Suci Al-Quran secara bersamaan dengan membagi bacaan perorang 1 Juz.

Dengan selesainya acara Khatmil Qur'an ini diharapkan mampu menjadikan sebab diampuninya dosa Jama'ah yang hadir khususnya dan kaum muslimin umumnya serta mampu menguatkan tali silaturahmi bagi Muslimat OKU.


(F-Wtk)

Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani menyampaikan, sejak hari santri ditetapkan pada tahun 2015, Kemenag selalu menggelar peringatan hari santri setiap tahun dengan tema yang berbeda-beda. Secara berurutan pada tahun 2016 mengusung tema 'Dari Pesantren Untuk Indonesia'.


Kementerian Agama (Kemenag) bekerjasama dengan ormas Islam kembali menyelenggarakan peringatan Hari Santri 2020 bertema 'Santri Sehat Indonesia Kuat' yang diluncurkan pada 1 Oktober 2020. Peringatan Hari Santri tahun ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan dan penyebaran Covid-19.

Kemudian di tahun 2017 mengusung tema 'Wajah Pesantren Wajah Indonesia, tahun 2018 bertema 'Bersama Santri Damailah Negeri, dan tahun 2019 bertema 'Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia'. "Dan untuk peringatan Hari Santri 2020 secara khusus mengusung tema 'Santri Sehat Indonesia Kuat'," kata Ramdhani saat peluncuran Hari Santri 2020 di Kemenag, Kamis (1/10).

Ia menyampaikan, isu kesehatan diangkat berdasarkan fakta bahwa dunia pada saat ini tidak terkecuali negara Indonesia tengah dilanda pandemi Covid-19. Pengalaman terbaik dari beberapa pesantren telah berhasil melakukan upaya pencegahan, pengendalian, dan penanganan dampak pandemi Covid-19.

Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa pesantren memiliki kemampuan di tengah keterbatasan yang dimilikinya untuk menangani berbagai tantangan dan dinamika lingkungan. Tentu modal utamanya adalah tradisi kedisiplinan yang selama ini diajarkan kepada para santri dan keteladanan sikap serta kehati-hatian para kiai atau pimpinan pesantren.

"Tentu saja dilengkapi dengan dimensi-dimensi transenden dan dimensi-dimensi spiritual yang diajarkan di lingkungan pesantren, karena mereka akan tetap mengutamakan keselamatan santrinya dibanding dengan proses pembelajaran pesantren," ujarnya.

Ramdhani menyampaikan rangkaian peringatan Hari Santri 2020. Di antaranya pada 30 September - 15 Oktober 2020 dilaksanakan Santri Millennials Competitions, pada 5 - 20 Oktober 2020 dilaksanakan Muktamar Pemikiran Santri Nusantara, dan pada 6 - 7 Oktober 2020 dilaksanakan Kopdar Akbar Santrinet Nusantara.

Selanjutnya pada 8 Oktober 2020 dilaksanakan Shalawat Creator and Influencer Summit. Pada 15 Oktober 2020 dilaksanakan Penyerahan BOP Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Islam, serta Bantuan Pembelajaran Daring Pesantren. "Pada 21 Oktober 2020 dilaksanakan Santriversary, dan Malam Puncak Peringatan Hari Santri 2020, dan  22 Oktober 2020 dilaksanakan Upacara Bendera," ujarnya.

Ramdhani mengatakan, penyelenggaraan hari santri tahun ini Kemenag bergandengan tangan dengan ormas Islam. Insya Allah akan mengusung tema yang sama yakni 'Santri Sehat Indonesia Kuat'. Mengingat sekarang masih dalam kondisi pandemi Covid-19, peringatan hari santri akan tetap berpedoman pada protokol kesehatan dalam rangka mencegah dan mengendalikan Covid-19.

Wakil Menteri Agama (Wamenag), KH Zainut Tauhid Sa'adi memastikan peringatan hari santri disesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19. Artinya dilakukan secara virtual dengan berbagai kegiatan dan lomba. Ada kegiatan seminar dilakukan virtual untuk menjaga kesehatan para santri dan juga para pengasuh pondok pesantren.

"Nanti puncak pada 22 Oktober 2020, kami berharap bapak presiden akan memberikan wejangan amanat untuk para santri di seluruh Indonesia," kata Wamenag.

Dikutip dari buku 'Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren' karya Abdulloh Hamid M.Pd, resolusi jihad tersebut menggerakkan santri, pemuda, dan masyarakat untuk bergerak bersama, berjuang melawan pasukan kolonial yang puncaknya terjadi pada 10 November 1945.


Setiap tanggal 22 Oktober diperingati sebagai hari Santri Nasional. Peringatan ini menjadi hal yang penting karena tujuannya untuk mengingatkan masyarakat tentang resolusi jihad KH Hasyim Asyari.

Latar Belakang Peringatan Hari Santri Nasional

Peringatan ini mengisahkan Hasyim Asyari yang kala itu menjabat sebagai Rais Akbar PBNU memutuskan untuk melakukan resolusi jihad melawan pasukan kolonial di Surabaya, Jawa Timur. Keputusan itu ditetapkan setelah mendengar tentara Belanda yang berupaya kembali menguasai Indonesia dengan membonceng sekutu.

Para santri pun meminta kepada pemerintah supaya menentukan sikap dan tindakan agar tidak membahayakan kemerdekaan serta agama. Pasalnya, perbuatan Belanda dan Jepang kepada Indonesia dianggap sebagai perilaku zalim bagi NU.

Sejak menyerukan resolusi jihad tersebut, para santri dan rakyat pun melakukan perlawanan sengit dalam pertempuran di Surabaya. Pimpinan Sekutu Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby pun tewas dalam pertempuran.

Hari Santri Nasional pun dituangkan ke dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani di Masjid Istiqlal, Jakarta. Dengan begitu, masyarakat bisa kembali mengingat perjuangan dan meneladankan semangat jihad para santri yang digelorakan para ulama.

Lirik Lagu Hari Santri

22 Oktober 45 - Resolusi jihad panggilan jiwa
Santri dan ulama tetap setia
Berkorban pertahankan indonesia

Saat ini kita telah merdeka
Mari teruskan perjuangan ulama
Berperan aktif dengan dasar pancasila
Nusantara tanggung jawab kita

Reff:

Hari santri hari santri hari santri
Hari santri bukti cinta pada negeri
Ridho dan rahmat dari ilahi
Nkri harga mati

Ayo santri ayo santri ayo santri
Ayo ngaji dan patuh pada kyai
Jayalah bangsa, jaya negara
Jayalah pesantren kita

Mari bersiap kita berangkat
Ke pesantren dengan penuh semangat
Raih cita cita luruskan niat
Mengabdi tuk kemaslahatan umat

Back to reff

***

Jayalah bangsa negara
Jayalah indonesia
Jayalah indonesia

Selamat Hari Santri Nasional 2020!

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengikhbarkan awal bulan Rabiul Awal 1442 H jatuh pada Ahad (18/10).


"Awal Rabiul Awal 1442 H bertepatan dengan hari Ahad Pahing (mulai malam Ahad), 18 Oktober 2020," kata Ketua LF PBNU KH Sirril Wafa melalui rilis yang diterima NU Online pada Ahad (18/10) pagi.

Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil pengamatan sebagian perukyah yang menangkap adanya hilal.

"Sebab hilal terlihat pada Sabtu petang 29 Shafar 1442 H," lanjut dosen ilmu falak di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.   Setidaknya, ada tiga lokasi yang berhasil melihat hilal awal Rabiul Awal 1441 H, yakni Bukit Condrodipo, Gresik, Jawa Timur; Masjid Jami' Denanyar, Jombang, Jawa Timur; dan Balai Rukyat Ibnu Syatir Joresan, Ponorogo, Jawa Timur.

Dengan adanya ikhbar tersebut, Maulid Nabi Muhammad SAW atau 12 Rabiul Awal 1442 diperingati pada Rabu (28/10) malam. Sebagai informasi, tinggi hilal pada akhir Shafar 1442 sudah mencapai 8 derajat 3 menit 36 detik di Markaz Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta. Sementara ijtimaknya terjadi pada Sabtu (17/10) dinihari, pukul 02.31.51 WIB.

Data tersebut sudah memenuhi kriteria imkanurrukyah, kemungkinan hilal bisa terlihat mengingat ketinggiannya sudah lebih dari 2 derajat dan rentang waktu ijtimak dengan terbenamnya matahari pada pukul 17.49 WIB sudah lebih dari 15 jam.

Adapun kedudukan hilal berada pada 1 derajat 20 menit 59 detik sebelah utara matahari dengan durasi terlihat selama 31 menit 1 detik.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan
Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/123950/masuk-rabiul-awal--maulid-nabi-jatuh-pada-rabu-malam-28-oktober

Dilansir dari laman situs Batumarta Update, Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kecamatan Lubuk Raja Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) telah menggelar Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) di halaman Masjid Al Falah Desa Batu Raden Kecamatan Lubuk Raja, Minggu Pagi (11/10/2020).


Ditempat yang sama Ketua PSNU Pagar Nusa Kecamatan Lubuk Raja, yang biasa disapa dengan Bang Togar, menyampaikan bahwa

UKT kali ini diikuti 25 santri PSNU se-Lubuk Raja, dan dibuka langsung dibuka oleh Rais Syuriah PCNU OKU yakni KH. Sofwan Syihab.

Dalam sambutannya Rais Syuriah PCNU OKU yang akrab dipanggil Abah Sofwan berpesan agar peserta UKT tetap semangat dan ikhlas manjalani seluruh proses.

“Ikhlas jalani seluruh proses. Insyallah akan membawa berkah untuk kita semua,” ujar Abah Sofwan.

Abah Sofwan menekankan bahwa PSNU adalah benteng NKRI, sudah semestinya harus ditanamkan dalam setiap santri Pagar Nusa bahwa NKRI adalah harga mati yang tidak boleh ditawar-tawar.

“Kita adalah benteng NKRI, Siapa yang mengganggu NKRI dan Ulama NU maka kita harus menjadi garda terdepan,” Tegasnya.

Tak hanya itu, Abah Sofwan juga menambahkan sudah saatnya santri PSNU wajib mencintai Negara Indonesia ini dengan cara menjaga keutuhan NKRI dari mereka yang ingin mengganggu dan merusak NKRI.

Secara terpisah Ketua PAC Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Lubuk Raja, Yoyon Asfai, juga menyambut baik kegiatan UKT ini dan tentunya kedepan akan ada beberapa hal terkait dengan program Ansor Lubuk Raja yang tentunya kedepan bisa di sinergikan dengan seluruh anggota PSNU.

“Ansor dan Banser selalu siap mendukung dan mensukseskan acara Pagar Nusa di Lubuk Raja, untuk itu jangan segan-segan untuk selalu konsultasi dan koordinasi dengan kami. Karna bagi kami, PSNU adalah Saudara Kandung Ansor”. Pungkasnya.

Berkibarnya bendera dan Ruh NU di wilayah Kabupaten OKU merupakan sebuah titik balik yang efektif dalam realisasi visi dan misi organisasi NU.

Pengembangan struktur dan kepengurusan Organisasi baik Banom maupun Lembaga NU di Kabupaten OKU saat ini telah dimulai dari akar rumpun, diharapkan mampu menjadi penyokong semangat bagi kader-kader NU yang telah berjuang terlebih dahulu dalam naungan Bendera NU, inilah generasi muda NU, bibit-bibit Kader pilihan yang diharapkan kedepan mampu menjadi generasi penerus dalam upaya mengemban dan melaksanakan visi dan misi organisasi NU secara umum.

Kontributor: Yyn
Editor: F-Wtk
Source: Batumarta Update

Di pelosok Kabupaten Bekasi, berdiri sebuah istana cukup megah yang berdiri di atas tanah seluas 7000 meter persegi. Kastil yang semula luas tanahnya 3000 meter persegi ini, berada di tengah-tengah pemukiman warga Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.


Disebutlah Istana Yatim Nurul Mukhlisin atau dengan nama lain Pesantren Motivasi Indonesia, yang diasuh oleh KH Ahmad Nurul Huda Haem, salah seorang pengurus di Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Pesantren ini diperuntukkan bagi anak-anak yatim. Kiai Enha memiliki dua definisi yatim.

Pertama, yatim karena ditinggal wafat oleh sang ayah. Kedua, anak-anak yang diyatimkan oleh keadaan seperti terjerat dalam kemiskinan dan anak-anak yang sejak lahir pada kondisi broken home. 

Sesuai namanya, Istana Yatim ini dibuat secara khusus untuk memberikan motivasi hidup kepada anak-anak yang sudah tak memiliki orangtua atau yang masih memiliki orangtua tapi kurang memperhatikan pendidikan sang anak.

Asal-usul Istana Yatim ini menarik untuk diulas. Diungkapkan salah seorang guru di sana, Muhammad Shofiyulloh bahwa Istana Yatim atau Pesantren Motivasi Indonesia ini merupakan kado cinta dari Kiai Enha untuk sang istri, Ny Hj Nunung Umi Kalsum.

Kedua sejoli ini yang kemudian membahasan panggilan untuk mereka, ayah dan bunda. Sebuah panggilan keintiman yang sangat sulit ditemukan bagi anak-anak yatim. Sementara guru-guru di sana dipanggil dengan sebutan "Kak".

Istana Yatim benar-benar dijadikan rumah bagi segenap santri yang sebagian besar ditinggal wafat orangtua kandungnya. Dengan demikian, anak-anak yatim itu mendapatkan kembali kehangatan keluarga yang belum pernah atau tidak didapatkan sebelumnya.

"Di malam pertama pernikahan Ayah Enha bertanya ke Bunda Nunung soal keinginan yang mesti dipenuhi. Bunda menjawab ingin punya rumah di dalamnya ada anak-anaknya Rasulullah," jelas Kang Opi, sapaan akrab Muhammad Shofiyulloh, dihubungi NU Online pada Rabu (14/10) malam.

"Bunda mah nggak minta rumah yang bagus. Karena yang penting di dalam rumah itu, seberapa pun besarnya, ada anak-anak yatim. Bunda mau ngalap berkah sama anak yatim," tambah Kang Opi. Di masa awal pernikahannya, Kiai Enha tinggal bersama ayahanda, Buya KH Muhali bin H Abdul Muthalib di Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur.

Bertahun-tahun, ia ditahan agar tidak segera pindah rumah. Buya Muhali kemudian memberikan banyak sarat agar anaknya yang satu ini tak buru-buru meninggalkan Kampung Sumur. Misalnya, Kiai Enha diminta untuk terlebih dulu memiliki rumah agar tidak mengontrak.

"Selain itu, Ayah juga diminta sama Buya harus mencarikan pengganti dirinya untuk mengurusi sekolah dan majelis taklim di Kampung Sumur," tutur Kang Opi. Secara perlahan, Kiai Enha akhirnya dapat juga meyakinkan Buya Muhali untuk bisa pindah rumah dan mengembangkan dakwahnya. Bahkan, mewujudkan keinginan sang istri: membangun Istana Yatim. "Nah, akhirnya Kiai Enha pindah rumah ke Jatiasih. Di sinilah Istana Yatim mulai terbentuk," tutur Kang Opi.

Di Jatiasih, yang menjadi rumah baru Kiai Enha, merupakan cikal-bakal berdirinya Istana Yatim. Di sana, dibuat majelis taklim dan setiap Jumat anak-anak disantuni; diberi makan dan uang.

"Mungkin itu cara Ayah untuk ngalap berkah dari anak yatim, karena beliau bersama istri pernah mengalami kesulitan. Tapi itulah ujiannya. Ujian untuk terus istiqamah. Istiqamah menyantuni yatim," tambah Kang Opi. Hidup dua sejoli pecinta anak yatim itu semakin terpuruk dan mendapat ujian yang lebih berat, saat Kiai Enha memutuskan untuk mengundurkan diri dari status Pegawai Negeri Sipil (PNS, sekarang ASN) di Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai penghulu. "Itulah titik tersulit Ayah Enha," timpal Shobur, salah seorang guru di Pesantren Motivasi Indonesia, selain Opi.

Di saat-saat tersulit itu, Buya Muhali kemudian memberikan sebidang tanah kepada Kiai Enha untuk dikembangkan menjadi ruang dakwah baru. Dalam suatu kesempatan bertemu dengan para santrinya, Kiai Enha bertutur, "Ayah tidak diwariskan harta-benda tapi cuma sebatas tanah 3000 meter untuk dibangun pesantren." Kiai Enha menjelaskan, pembangunan Istana Yatim sudah dimulai sejak 2011. Ketika itu, masih dalam bentuk saung bambu. 

Peletakan batu pertama untuk mendirikan masjid dan asrama dilaksanakan pada 17 Februari 2012, sekaligus menjadi berdirinya Pesantren Motivasi Indonesia: Istana Yatim. "Pesantren ini tidak mungkin terwujud kalau tanpa bunda. Karena bunda adalah inisiator dari terbentuknya pesantren ini," kata Kiai Enha yang diceritakan ulang oleh Opi.

Di awal-awal berdirinya pesantren ini, terdapat sekitar 20 anak yatim yang menjadi santri pada generasi pertama. Mereka adalah anak yatim yang diboyong Kiai Enha dari Jatiasih untuk mondok di pesantren yang terletak di Kampung Cinyosog. Secara garis besar, Istana Yatim bisa terwujud dan berdiri lantaran cinta dari seorang suami untuk sang istri. Walau membawa embel-embel yatim, Kiai Enha tidak menerima atau bahkan menentang keras santunan-santunan yang kerapkali dilakukan, seperti misalnya di bulan Muharram atau pada saat Ramadan.

"Ayah menentang keras santri di sini disantunin dalam bentuk amplop yang diisi uang. Sebab perbuatan itu bukanlah bertujuan untuk menghibur atau mendidik, tapi justru seperti eksploitasi terhadap anak yatim," kata Opi, menyampaikan amanat Kiai Enha. Namun demikian, Istana Yatim tidak pernah menolak atau akan menerima berbagai pihak yang ingin menyantuni dalam bentuk pemberdayaan. Misalnya dalam bentuk penguatan atau pengadaan infrastruktur dan alat-alat yang menunjang pendidikan bagi santri.

Pesantren-Schooling

Kiai Enha menjelaskan bahwa pada umumnya pesantren itu terdapat dua sistem, salaf (tradisional) dan khalaf (modern). Namun katanya, Istana Yatim atau Pesantren Motivasi Indonesia yang ia dirikan itu disebut sebagai pesantren modifikasi. "Ini hal baru di dunia pendidikan. Bisa juga disebut sebagai pesantren-schooling," tuturnya.

Telah jamak diketahui bahwa lembaga pendidikan yang sifatnya salaf berarti menganut sistem nonformal, tidak ada sekolah formal yang berjenjang. Berbeda halnya dengan lembaga pendidikan, dan juga pesantren, yang disebut khalaf yang biasanya terdapat madrasah atau sekolah yang juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum non-agama. Di Pesantren Motivasi Indonesia, di satu sisi menganut sistem salaf karena tidak meninggalkan tradisi kitab kuning dan kultur sebagaimana pesantren di kalangan Nahdlatul Ulama. Tidak ada ijazah formal karena juga tidak ada pendidikan formal yang berjenjang seperti sekolah.

Namun pada kenyataannya, di Pesantren Motivasi Indonesia ini juga memberikan berbagai pemahaman yang di luar dari tradisi pesantren salaf pada umumnya. Tidak melulu mengaji kitab kuning, tetapi juga ada pemberian pemahaman tentang pengetahuan umum. Selain itu, budaya yang dibangun pun berbeda dari pesantren-pesantren salaf. Di sana, sosok kiai bukanlah seorang yang terlalu jauh berjarak dengan santri. Oleh karena itu dipanggil dengan sebutan "Ayah". Sementara panggilan untuk Bu Nyai adalah Bunda.

"Para guru yang mengajar di sini juga tidak dipanggil ustadz atau ustadzah tapi kakak. Panggilan itu disematkan dalam aktivitas sehari-hari. Jadi hal itulah yang membangun sebuah kekeluargaan karena mayoritas adalah santri yatim dan yang diyatimkan oleh keadaan," jelas Kiai Enha.

Ditegaskan bahwa Pesantren Motivasi Indonesia menjadi sebuah antitesis atau perlawanan dari kapitalisme yang kerap melakukan komersialisasi terhadap lembaga pendidikan. Perlawanan itu dibuktikan dengan menggratiskan santri yatim, penuh selama enam tahun.  Kiai Enha mencoba membuang persepsi bahwa kemewahan di dalam dunia pendidikan hanya diperuntukkan bagi orang-orang kaya. 

Di Pesantren Motivasi Indonesia, lain cerita. Karena memberikan berbagai fasilitas mewah yang diberikan kepada para santri. Di sana terdapat seperangkat alat musik band, studio podcast, dan panggung pertunjukkan yang sangat megah. Setiap Sabtu malam, masing-masing kelompok santri, memperesentasikan penampilan menarik sebagai wujud pengembangan potensi diri. Di atas panggung itu, terlihat jelas sebuah jargon Hard Rock Cafe, Love All Serve All.

Demikianlah yang diwujudkan Kiai Enha dalam upaya mengembangkan Istana Yatim, selama ini. Mencintai kemanusiaan secara total dan melayani kemanusiaan juga dengan penuh sungguh. Baginya, dari jargon itu, menimbulkan spirit atau semangat yang sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 tentang kewajiban mencerdaskan anak bangsa. 

Indikator SAHIH

Pesantren Motivasi Indonesia juga membangun karakter para santri dengan membentuk kelompok mentoring. Dikelompokkan berdasarkan dari jenjang kelas dan karakteristik yang berbeda.

Disusun berdasarkan tipe temperamen manusia yakni sanguinis, plegmatis, koleris, dan melankolis. Sementara untuk mengetahui keadaan dan perkembangan santri, digunakan sebuah instrumen bernama SAHIH. Spiritual, Attitude, Habit, Intelligence, dan Healthy (SAHIH). Spiritual dinilai bukan dari rajin ibadah. Melainkan nilai spiritual akan menjadi baik jika dibarengi dengan perilaku toleran terhadap kehidupan sosial yang beragam. Maka tak heran, jika Pesantren Motivasi Indonesia sering didatangi dan bersinergi dengan para pemuka, aktivis, dan umat dari agama lain. "Siapa pun tamu yang datang, santri harus melayani. Bahkan yang berbeda agama sekalipun.

Itulah spiritualitas yang kami ajarkan. Spiritualisme kemanusiaan," jelas Kiai Enha. Hal ini sejalan dengan attitude yang selalu diajarkan kepada santri di sana. Menurut Kiai Enha, sebaik-baiknya seorang santri dalam beribadah tidak menjamin akan baik attitude-nya. Justru kesadaran bersikap dan berbuat kepada semua orang itulah yang dapat menjadikan santri menjadi pribadi yang baik. Kemudian habit yang dapat diketahui dari keseharian santri. Seorang kakak guru diminta Kiai Enha agar tidak melulu melihat habit santri dari sisi keburukan saja tetapi juga harus mengawal kebiasaan baik santri untuk membantu mengembangkan karakter santri. "Malas itu kan bukan hal given atau turunan tapi harus dibimbing.

Kenapa harus diperhatikan? Jika habitnya buruk maka akan mempengaruhi attitude dan nilai spiritual itu menjadi buruk. Tapi ketiga itu tidak menjamin seorang santri memiliki nilai inteligensi atau kecerdesan," tutur Kiai Enha. Kemampuan belajar santri, menurutnya, bukan hanya didapat di ruang belajar. Namun, santri juga dibimbing untuk mengambil pelajaran dan setiap hal yang terjadi di dalam hidup. Peristiwa-peristiwa dan hikmah, kata Kiai Enha, tidak bisa didapatkan jika hanya menunggu di dalam ruang belajar. Terakhir, healthy atau kesehatan.

Hal ini menjadi penting diperhatikan agar para santri dapat terbentuk karakternya dengan baik. Jika kesehatannya buruk, maka keempat hal di atas itu tidak akan berfungsi secara maksimal. "Tetapi kesehatan di sini tidak hanya soal fisik, melainkan juga mental. Kalau mental sakit, otomatis semuanya menjadi sakit. Oleh karena itu, pesantren ini tidak hanya menyediakan sebatas fasilitas keagamaan tapi fasilitas olahraga dan alat penunjang kreativitas santri juga diperhatikan," kata Kiai Enha.

Pesantren sebagai penggerak ekonomi kerakyatan

Kiai Enha yang juga berlatar belakang sebagai pengusaha, berupaya menitipkan jiwa entrepreneur kepada para santrinya. Pesantren, baginya, bukan hanya berperan sebagai lembaga pendidikan agama semata, tapi harus menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. Para santri diajarkan bagaimana menggerakkan perekonomian. Perputaran uang terjadi dengan sangat baik di sana.

Sebab, kini telah didirikan sebuah minimarket di depan pesantren, yakni PMI (Pesantren Motivasi Indonesia) Mart. Mulai dari pengelola hingga pembeli adalah santri. Muhammad Shofiyulloh, seorang guru yang sekaligus menjadi Manager PMI Mart menuturkan bahwa PMI Mart didirikan sebagai sebuah ikhtiar untuk pengembangan usaha di pesantren.

Ia pun berharap, agar para santri dapat terus konsisten dan tetap tumbuh dalam mengembangkan keahlian di bidang usaha. Minimarket yang diresmikan pada 26 Agustus 2020 lalu dijadikan sebagai pendorong kemandirian ekonomi pesantren. "Saya berharap PMI Mart dapat menjadikan pesantren ini menjadi lembaga pendidikan Islam yang lebih mandiri dan berdikari secara ekonomi," katanya. Dalam sebulan, diperkirakan PMI Mart meraup omzet sebesar Rp30 juta. Ada banyak item yang dijual, di antaranya kebutuhan santri sehari-hari sebagaimana minimarket pada umumnya dan berbagai kitab kuning, buku pengetahuan umum, dan busana muslim. "Pembelinya santri, pengelolanya santri, hasilnya juga buat santri. Inilah ekonomi Pancasila," jelasnya.

Tak hanya itu, Pesantren Motivasi Indonesia juga memiliki kedai kopi yang dinamai sebagai CafeTrend (kafe pesantren). Terdapat berbagai varian kopi yang dilabeli Ngopi Santri. Brand ini juga yang menjadi nama diskusi setiap pekan. Ngopi Santri adalah kependekan dari Ngobrol Pemikiran dan Kesadaran Literasi. Para intelektual dan tokoh yang ahli di bidangnya, diundang untuk menjadi pembicara membahas seputar isu yang sedang berkembang dengan berbasis literatur yang mumpuni. Kini, untuk mencegah penyebaran dan penularan Covid-19, dibuatlah studio podcast untuk berdiskusi. Diskusi-diskusi itu kemudian ditayangkan Kanal Youtube PMI TV.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/123897/pesantren-motivasi-indonesia-istana-yatim-di-pelosok-bekasi?_ga=2.132422798.1254284426.1602891559-837308935.1577060440

Sebelum kita masuk ke analisis hukum, ada baiknya kita mencermati terlebih dulu sejumlah alasan yang dijadikan latar belakang (awjah) para nasabah tersebut dalam menjual tanah atau aset lain yang sudah dijadikan penjaminan kredit terhadap perbankan.


Berdasarkan hasil penelusuran dari beberapa jurnal penelitian, peneliti mendapati adanya beberapa motif penjualan aset jaminan ini oleh nasabah, antara lain:

  1. Harga tanah yang dijadikan jaminan lebih mahal dari uang yang dipinjam konsumen dari bank
  2. Jika tanah itu diserahkan begitu saja (disita) oleh pihak perbankan, maka konsumen lebih banyak kehilangan harta dibanding jika tanah itu dijual sendiri olehnya, lalu hasil penjualannya dipergunakan untuk menutup/melunasi utangnya.
  3. Terkadang ada motif kejahatan, misalnya pelaku hendak lari dari tanggung jawab melunasi kewajibannya terhadap perbankan. Itu sebabnya, dalam lembar hukum positif negara terdapat pasal tentang fidusia yang berperan untuk menjerat para nasabah yang mangkir.

Dari ketiga ketiga alasan ini, motif terakhir merupakan praktik yang secara jelas hukumnya: tidak diperbolehkan dalam syariat, sebab unsur penggelapan (tadlis).

Adapun untuk motif pertama dan motif kedua, dalam hal ini kita akan coba uraikan dengan mempertimbangkan sisi akad yang dibangun antara nasabah kredit terhadap perbankan lewat akad relasi akad yang berlaku atas perkreditan tersebut.

Status Barang Jaminan Kredit Perbankan Ketika seorang nasabah mengajukan kredit perbankan, maka umumnya pihak perbankan meminta sebuah aset untuk dijadikan sebagai jaminan. Hal semacam ini umum berlaku dalam beberapa perbankan konvensional.

Jika dalam perbankan syariah, keberadaan aset ini sebagai yang dibeli dulu oleh perbankan dengan praktik akad jual beli dengan janji akan dibeli lagi oleh penjualnya. Akad yang dipergunakan adalah akad bai' bi al-wafa. Disebut bai' bi al-wafa, karena akad ini identik dengan jual beli terhadap objek yang dijadikan jaminan pelunasan kredit.

Jika nasabah berhasil melunasi tanggungannya, maka barang yang dijadikan jaminan kembali kepada penjualnya. Namun, sebaliknya, jika nasabah tidak bisa melunasi utangnya, maka pihak kreditur (perbankan) bisa melelang aset yang sudah dibelinya untuk menutup utang nasabah, yang sejatinya telah berubah menjadi aset perbankan itu sendiri, sebab sudah dibeli. Akan tetapi, yang dibutuhkan oleh perbankan (selaku pelaksana jasa keuangan) adalah tidak berupa barang.

Setiap perbankan senantiasa membutuhkan aset dalam bentuk likuiditas, yaitu aset yang mudah dicairkan. Dan keberadaan aset ini harus ada dalam bentuk uang, dan tidak dalam bentuk barang.

Jika mencermati bagaimana akad bai' bi al-wafa' ini dilaksanakan, maka sejatinya kita bisa menangkap pesan bahwa seolah objek barang yang menjadi perantara antara nasabah dan perbankan tersebut, hakikatnya adalah termasuk jaminan kepercayaan atas dilunasinya utang (tautsiqah). Alhasil, dalam versi Syafi'iyah, akad bai' bi al-wafa' ini sebenarnya merupakan turunan dari akad gadai. Bolehlah kita sebut sebagai rahn hukman (secara substansi serupa gadai).

Meskipun pelaksanaannya melewati proses akad jual beli, namun karena hukum kepemilikan sempurnanya (milkun tamm) memiliki keeratan relasi dengan penebusan (pelunasan utang/wafa'u al-dain), maka secara tidak langsung akad tersebut adalah akad rahn (gadai).

Alhasil, barang jaminan kredit itu menempati derajat barang yang digadaikan (marhun). Sebagai barang gadai, maka segala ketentuan yang berlaku atasnya adalah mengikuti akad gadai (rahn)/versi Syafiiyah.

Hal-Hal yang berlaku atas Barang Gadai Gadai, secara syara' didefinisikan sebagai:

جعل عين مالية وثيقة بدين يستوفى منها عند تعذر الوفاء

"Menjadikan suatu barang fisik hartawi sebagai akad jaminan kepercayaan atas suatu utang yang akan dilunasi dengannya ketika pihak yang berutang merasa kesulitan untuk melunasinya" (Fathu al-Qarib al-Mujib, juz 1, halaman 172)

Oleh karena fisik barang tersebut berlaku sebagai jaminan pelunasan atas suatu utang, maka menjual barang jaminan hukumnya adalah tidak sah.

فبيع المرهون بغير إذن المرتهن لا يصح 

"Menjual barang gadai tanpa seizin pihak pegadaian hukumnya adalah tidak sah" (al-Bayan fi al-Fiqh al-Imam Al-Syafi'i, jilid 6, h. 166)

Bagaimana jika utang itu lebih kecil dari harga barang yang digadaikan?

Al-Umrany menyampaikan:

وإن كان الدين المرهون به أقل من قيمة الرهن بيع من الرهن بقدر دين المرتهن، وكان للبائع أن يرجع في الباقي منها؛ لأنه لا حق لأحد فيما بقي منها، وإن لم يمكن بيع بعض الرهن بحق المرتهن إلا ببيع جميع الرهن، فبيع جميع الرهن وقضي حق المرتهن من ثمن الرهن، وبقي من الثمن بعضه

"Apabila utang gadai lebih kecil dari harga barang gadai itu sendiri, maka barang gadai dijual menurut kadar utang penggadai kepada pegadaian. Penjual bisa meminta kembali sisa dari hasil penjualan dikurangi utangnya, karena sisa tersebut tidak ada hak bagi seorang pun yang boleh menerima. Dan apabila pegadaian tidak mungkin untuk menjual sebagian dari barang yang digadaikan melainkan harus dijual semuanya, maka barang itu boleh untuk dijual seluruhnya, lalu pegadaian mengambil hak pemenuhan utangnya dari sebagian harga barang gadai itu, sehingga tersisa sebagian yang lain dari sisa penjualan yang diberikan kepada pihak penggadai" (al-Bayan fi al-Fiqh al-Imam Al-Syafi'i, jilid 6, h. 166).

Meski demikian, pendapat ini muaranya tetap sama, yaitu barang jaminan utang (barang gadai) adalah tidak sah dijual tanpa seizin pihak pegadaian (perbankan). Apabila hal itu dilakukan, maka pihak pegadaian/perbankan bisa mengambil kembali barang yang digadaikan secara paksa, khususnya apabila pihak penggadai (nasabah) mangkir dari kewajibannya melunasi utangnya.

Sebab, penjualan barang gadai (barang jaminan utang) tanpa seizin pihak bank adalah tidak sah (batal). Dengan kata lain, adanya jual beli adalah sama dengan tidak adanya (wujuduhu ka'adamihi).

Lain halnya, apabila setelah transaksi penjualan, kemudian pihak penggadai (nasabah kredit) segera melunasi utangnya di perbankan. Alasannya, ada atau tidak adanya penjualan barang jaminan oleh nasabah, pada akhirnya barang itu akan dijual juga oleh pihak pegadaian (bank) khususnya bila terjadi keterlambatan pelunasan.

Penjualan barang gadai yang harganya lebih mahal dibanding utang gadai yang diterima pihak nasabah, menjadi satu alasan bahwa sebagian dari barang tersebut adalah masih milik sempurna nasabah. Akan tetapi, karena barang itu merupakan barang milik bersama antara nasabah dan pegadaian, maka penjualan seluruhnya adalah dibolehkan, namun dengan catatan, pihak nasabah harus segera menutup tanggungannya di bank. Bila tidak, maka pihak perbankan bisa membatalkan akad jual belinya, mengingat secara fisik, barang tersebut telah dijadikan jaminan. Wallahu a'lam bish shawab.

Muhammad Syamsudin, S.Si., M.Ag, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/123856/bolehkah-menjual-tanah-yang-dijadikan-jaminan-kredit-di-perbankan-

Dalam kurun waktu kurang dari setahun, Allah SWT telah memanggil setidaknya 83 Ulama Nahdlatul Ulama dari berbagai wilayah di Indonesia, semoga para Ulama kita diampuni segala doosanya diterima seluruh amal perbuatannya dan di jauhkan dari azab siksa neraka.


Berikut daftar Ulama NU yang wafat selama tahun 2020:

  1. KH Sholahuddin Wahid/Gus Sholah. 2 Feb 2020 di Jakarta.
  2. KH Ahmad Bagja. 6 Feb 2020 di Jakarta.
  3. KH Ahmad Habibulloh Zaini. 10 Feb 2020. Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri,  wafat di Surabaya.
  4. KH Ghozalie Masroeri. Ketua LFPBNU. 19 Feb 2020 di Bintaro.
  5. Kyai Ayip Abbas. 7 Maret 2020 di Cirebon.
  6. H. Muhammad Umar Fauzi (Gus Uzi), Putra Kiai Abdul Muid, Ponpes Al Muayyad Solo, 13 Maret 2020.
  7. KHM. Basori Alwi. Pengasuh PIQ Singosari Malang. Senin, 23 Maret 2020.
  8. Guru Zuhdi atau KH Ahmad Zuhdiannor. Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sabtu, 2 Mei 2020. 
  9. Guru Husni Zam Zam asal Barabai (165 kilometer utara Banjarmasin), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalsel. Sabtu, 2 Mei 2020.
  10. KH Masyhudi Muhtar (a’awan Syuriyah PWNU Jatim) wafat  Juni 2020.
  11. Kiai Sahlan M. Noor Pengasuh Pondok Pesantren Mubtaghal Mujtahidin Sedan, Rembang. Juni 2020.
  12. Gus H Wahid Mahfudz , Wakil Sekretaris  PW NU Jatim. Beliau wafat pada (27 Juni 2020).
  13. KH Farihin Muhsan (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim) asal Singosari Malang. Yang meninggal pada (29 Juni 2020). 
  14. KH Ahmad Zaki Hadziq / Gus Zaki / Cucu Mbah Hasyim. 1 Juli 2020 di Tebuireng.
  15. KH Abdul Wahid Ghozali (Gus Wahid Arema).  4 Juli 2020. Pondok Pesantren As Salam Singosari. Wafat di Malang.
  16. KH. Sohibul Kahfi, PP Miftahul Huda, Gading Malang, wafat tanggal 14 Juli 2020.
  17. KH. Majid Kamil Bin KH. Maimoen Zubair. 13 Juli 2020. Sarang.
  18. KH Mundzir Tamam bin KH Maisin. 25 Juli 2020. Jakarta.
  19. KH Chaizul Ma'ali. Pondok Pesantren Misykatul Anwar Sedan, Rembang. 26 Juli 2020.
  20. KH. Mohammad Ma'mun Chotib. 29 Juli 2020 di Jakarta.
  21. Mama KH. Showi Dimyati. 31 Juli 2020. Bakom, Bojokerta Kec Bogor Selatan.
  22. KH. Ade Syamsudin Pengasuh PP. Al-Hikmah Tamanjaya Gununghalu, Pengurus Jam'iyah Ahlitthoriqoh Al-Mu'tabaroh Annahdliyah (JATMAN) Idaroh Syu'biyah Bandung Barat. Juli 2020.
  23. KH Hasyim Wahid / Adik Gus Dur. 1 Ags 2020 di Jakarta.
  24. KH. Subhan Syibromulis Kholili (Yai Sib). Pengasuh Ponpes Canga'an Bangil. Ahad, 02 Agustus 2020 M / 12 Dzulhijjah 1441 H.
  25. Abah Cipulus (KH. Adang Badruddin). Pengasuh PP Al Hikamussalafiyah, Cipulus, Wanayasa, Purwakarta. 3 Agustus 2020.
  26. KH. Hasyim Asy'ari Tegalarum Kuden, Klaten. 7 Agustus 2020.
  27. Gus Robah Ubab MZ. 12 Agustus 2020. Sarang, Rembang.
  28. KH. Abdurrahman Syamsyuri. 12 Ags 2020. Mejobo, Kudus.
  29. KH. A. Roziqin (Cak Wiji Basuki) Banyuwangi, Jawa Timur. Senin, 17 Agustus 2020.
  30. KH. Alwi Hussein (Ketua IPIM Prov Kep. Riau). Senin, 17 Agustus 2020. 
  31. KH Muhammad Idrus Makkawaru. Gowa, Selasa, 18 Agustus 2020.
  32. KH. Tamhid Tirmidzi (PP Tahfidzul Quran) Bangkalan. Selasa, 18 Agustus 2020.
  33. KH. A. Hariri ( Guru Madrasatuk Qur'an Tebuireng Jombang). 
  34. Kyai Nurul Huda bin KH Ridwan. Kebonsari, Garum, Blitar, Jatim. Sabtu, 22 Ags 2020.
  35. KH.MUDHAKIR SHOLEH BIN SHOLEH. Kab. Penajam Paser Utara KALTIM. Selasa, 25 Ags 2020.
  36. KHR. Umar Daud Abdul Hakim (Mama Dudu). Pondok Pesantren Riyaadhunnahwi wasshorfi Annajaat Sumursari, Desa Sukasono, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut. Selasa (25/8) sekitar pukul 14. 30.
  37. K.H. Ahmad Hasanudin Musytasar RINU Rawa Baru Indah (Rawapanjang Bojongbaru Bojonggede) Jum'at, 28 Agustus 2020, jam 14.00 WIB. 
  38. KH. Abdullah, Pendiri dan Pengasuh PPAI Al-Aziz, Dampit, Malang. Minggu, 30 Ags 2020.
  39. KH . Ahmad Sya'roni Tegallega Kota Bogor. Minggu, 30 Ags 2020.
  40. KH Moh. Hasan Abdel Bar, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Zainul Hasan Genggong,  Probolinggo. Minggu (30/8/2020).
  41. KH. Chimayatulloh Al-Fatich, 
  42. Ribath Ghozali Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. 31 Agustus 2020.
  43. KH Husen Ali. Pondok  Pesantren Tachfidzul Qur’an (PPTQ) Al-Hasan, Jl.Parang Menang, Patihan Wetan, Ponorogo. 3 September 2020.
  44. KH Akhyaruddin Ya'qub al-Hamil. Desa Kedung Lèpèr, Bangsri, Jepara. 5 September 2020.
  45. KH. Hadziq Mahbub. PP Al Muhlisin Ciseeng. 5 September 2020.
  46. KH. Abdul Aziz, SE bin KH. Muhammad Sirodj. PP Al Quran Cijantung Ciamis. 5  September 2020. 
  47. KH M Khoirun Dolopo Madiun. 6 September 2020.
  48. KH. Muhtadi. PP Darussalam Katimoho Kedamean Gresik. 6 September 2020.
  49. KH. Nasrudin Tarsyudi, SH. Ketua PCNU Brebes. 7 September 2020.
  50. KH. Manshur Sholih. Pengasuh PP Al Falah Putri Kepel. 8 September 2020.
  51. KH. Tarnadi Abu Sukma Jati. Mursyid TQN Indramayu. 8 September 2020.
  52. KH. Ahmad Dimyati. Kepanjen, Malang. 8 September 2020.
  53. KH. Basuni bin KH Ahmad Zamahsyari, Pengasuh Pondok Pesantren  Ar-Rifai'e 1, Ketawang, Gondanglegi Malang. Jumat, 11 September 2020 pukul 07.30 WIB. 
  54. Nyai Hj. Fathimah binti KH. Makhlul (Ibunda Gus M. Nuruzzaman/KaDensus 99 Banser. Jumat, 11 September 2020.
  55. KH. Burhan Jamil. PP Raudhatul Mujawwidin Rimbo Bujang Tebo Jambi. Sabtu, 12 September 2020.
  56. Dr. KH. Chariri Shofa, M.Ag. PP Darussalam Dukuhwaluh Banyumas. Sabtu, 12 September 2020.
  57. KH. Abdul Kholiq Ridlwan. PP Putri Al Ihsan Lirboyo. Senin, 14 September 2020.
  58. KH. R. Mu'tiqun Asnawi. PP Al Anwar Jawar, Mojotengah, Wonosobo. Senin, 14 September 2020.
  59. KH. Anwar Isa bin H. Muhammad Isa. Rois Syuriah PWNU Kalteng. Rabu, 16 September 2020.
  60. KH. Mudassir. PP Sabilussaasah, Jatilawang, Banyumas. Jumat, 18 September 2020.
  61. Nyai Hj. Nur Ishmah binti KH. Abdullah Salam. Pengasuh PP Yanbu'ul Qur'an Kudus. Jumat, 18 September 2020.
  62. K. Syamsul Ghozi bin KH. Asrori. PP Al Islah Pakuncen, Tegal. Ahad, 20 September 2020.
  63. KH. Habib Masduqi Alawy. Ketua RMI Sragen. Ahad, 20 September 2020.
  64. KH. Robbah Ma'shum. PP Ihyaul Ulum, Gresik. Selasa, 22 September 2020.
  65. KH Achfas Zen. Pondok Pesantren Putri Bustanul Muta’allimat Blitar. Rabu 23 September 2020.
  66. KH. Adin. PP Minhajul Karomah Cibeunteur Banjar. Kamis, 24 September 2020.
  67. Habib Husain Almutohar, Pengasuh Majelis Al-Alawiyyah Kota Banjar. Sabtu, 26 September 2020.
  68. KH. Habib Ahmad (Qori Shahih Bukhari Muslim Tebu Ireng). Sabtu, 26 September 2020. 
  69. KH. Amin Husaini Zen Pimpinan Dayah Insan Qurani dan Ketua JQH NU Banda Aceh. Minggu, 27 September 2020.
  70. KH. Ali Maksum. Pembina Pagar Nusa Denanyar. (Info tanggal belum ada).
  71. KHR. Maslah Asy'ari. PP. Al Asy'ari Demesan, Tempuran, Magelang. Senin, 28 September 2020.
  72. KH. M. Khudri Hasbullah, MM.  Ketua yayasan Darul 'Izzah Jepara. Selasa, 29 September 2020.
  73. KH. M. Amin, S.Ag. PPTQ Al Mubarok Kudus. Rabu, 30 September 2020.
  74. Dr. Kyai Abdul Jalal, M.Ag. Ketua Asosiasi Ma'had Aly Indonesia. Kamis, 01 Oktober 2020.
  75. KH. Muhammad Masroni. PP Sunan Gunung Jati Ba'alawy Ungaran. Jumat, 2 Oktober 2020.
  76. KH. Maman Suparman (Abah Ciherang). Senin, 5 Oktober 2020.
  77. KH. Moh. Rozi Al Amiri Mannan. PP Nurul Jadid Paiton. Rabu, 7 Oktober 2020.
  78. KH. Moh. Faruq. PP Al Bisri Denanyar Jombang. Minggu, 11 Oktober 2020.
  79. Romo KH. ASYROFUL ANAM. KATIB SYURIAH PC NU KABUPATEN Ngawi. Minggu, 11 Oktober 2020.
  80. KH. Athourrohman Hisyam. PP Attaujieh El Islamiy. Rabu, 14 Oktober 2020.
  81. KH. Fuad Mun'im Djazuli. PP. Al Falah Ploso Kediri. Sabtu, 17 Oktober 2020.
  82. KH.Mohammad Hasan Saiful Islam. PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo. Sabtu, 17 Oktober 2020.
  83. KH. Imam Suhrowardi. PP Tanwirul Qulub Karanggeneng, Lamongan. Sabtu, 17 Oktober 2020.

‏اللهم اغفر لهم وارحمهم وعافهم واعف عنهم وأكرم نزلهم واغسلهم بالماء والثلج والبرد ونقهم من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس

اللھم أظلهم تحت ظل عرشك

يوم لاظل إلاظلك

اللھم طيب ثراهم وأكرم مثواهم وأجعل الجنة مستقرهم ومأواهم

وأجعل قبورهم نوراً وضياء

Hukum shalat berjamaah menurut mazhab Syafi’i adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan. Terdapat banyak hadits yang membincangkan tentang keutamaan shalat berjamaah. Di antaranya adalah hadits riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Umar sebagai berikut:

 صَلاَةُ الجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Artinya: Shalat berjamaah mengungguli daripada shalat sendirian dengan selisih pahala 27 derajat. (HR Bukhari: 645)


Karena saking tingginya derajat shalat berjamaah, beberapa orang merasa sayang jika sampai melakukan shalat sendirian tanpa berjamaah. Walaupun hanya mendapati tasyahud (tahiyat) akhirnya imam, orang akan berusaha bergabung meskipun hanya dapat waktu sedikit saja dari shalatnya imam.

Mengapa demikian? Sebab hal tersebut berpengaruh besar terhadap nilai-nilai pahala yang akan diperoleh. Tentu tidak akan sama antara orang yang ikut jamaah sejak awal dengan yang hanya mendapati salamnya imam saja. Lepas dari itu semua, masing-masing tetap dinamakan jamaah dan pahalanya dengan shalat sendirian selisih 27 derajat.

Bagaimana kalau ada orang yang mengejar ikut berjamaah, namun saat ia baru saja melakukan takbiratul ihram ternyata ia beriringan dengan salam imam?   Shalat makmum ini tetap sah. Namun karena persis beriringan dengan imam, makmum tidak boleh turun menyusul imam duduk melakukan tasyahhud akhir.

ـ(مسألة: ب): أحرم والإمام في التشهد فسلم عقب إحرامه لم يجز له القعود لانقضاء المتابعة، فإن لم يسلم لزمه، فلو استمر قائماً بطلت إن تخلف بقدر جلسة الاستراحة اهـ

Artinya: "(Masalah: dikatakan oleh Abdullah bin Umar bin Abu Bakar bin Yahya). Ada seorang makmum melakukan takbiratul ihram sedangkan imam yang ia ikuti dalam posisi tasyahhud. Setelah makmum bertakbir, imamnya ternyata pas salam secara beriringan. Maka bagi makmum tidak boleh duduk menyusul kepada imam sebab gerakan imam yang harus diikuti oleh makmum sudah tidak ada lagi. Adapun apabila imam belum salam, ada sedikit waktu cukup, makmum harus segera menyusul tasyahhud imam. Kalau ia tetap berdiri, shalatnya batal jika jarak antara berdirinya makmum sampai menyusul duduk melebihi kadar kira-kira orang duduk istirahah shalat." 

(Sayyid Abdurrahman Baalawi, Bughyah al-Mustarsyidin, Darul Fikr, [Beirut, 1994), halaman 119.

Maksudnya, apabila makmum takbir, sedangkan imam masih tasyahhud belum salam, makmum harus segera menyusul mengikuti tasyahhud imam. Kalau ia takbir, namun tidak segera turun (berdiri terlampau lama), shalat makmum bisa batal, sebab ia tidak segera bergabung pada gerakan imam yang ia maksud. Berarti kalau sudah takbir makmum tidak boleh menunggu lama.

Jarak lama yang dimaksud di sini adalah jarak kira-kira orang membaca tahiyyat paling cepat. Adapun menurut Imam Ibnu Hajar jaraknya adalah sekadar orang membaca doa duduk di antara dua sujud yaitu Rabbi ighfir li warhamni wajburni wa 'afini wa'fu anni.

Berbeda jika menurut Imam Ramli. Ia menyatakan jarak antara takbir dengan menyusul duduk adalah sekedar orang baca subhanallah. Jadi apabila ada orang takbir, imamnya tasyahhud, makmun tidak segera turun tasyahhud, shalatnya batal. Wallahu a'lam.

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/99685/ketika-takbiratul-ihram-makmum-berbarengan-dengan-salam-imam

Demikian disampaikan Direktur Instrukur dan Tenaga Pelatihan, Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Ditjen Binalattas) Kemnaker RI, Fauziah, saat menutup kegiatan Pelatihan Pengelolaan Administrasi Pelatihan Kerja untuk Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) yang digelar di Hotel Belviu, Bandung, Jumat (16/10) malam.

Para santri diyakini akan menjadi salah satu aktor yang membawa Indonesia menjadi negara maju, berkompeten, dan berdaya saing di kancah internasional. Sebab, mereka setiap hari selalu digembleng untuk membentuk soft skills seperti disiplin, terampil, berdedikasi, berakhlakul karimah, dan sebagainya.

"Soft skills sudah terbentuk dalam diri santri tinggal kita bangun skills mereka melalui BLK Komunitas di pesantren bapak-ibu semua," ungkapnya di hadapan 125 peserta pelatihan yang berasal dari berbagai pesantren yang ada di pulau Jawa dan Sumatra.

Dikatakannya, kehadiran BLK Komunitas di pesantren bisa memberikan kontribusi untuk menyeimbangkan soft skills dan skills yang ada dalam diri santri sehingga santri tidak lagi identik dengan orang yang bertaqwa dan berakhlak saja, melainkan juga memiliki kompetensi dan siap bersaing di dunia kerja.

"Jika hal ini mampu diwujudkan, saya yakin santri tidak akan lagi dipandang sebelah mata karena santri Indonesia adalah generasi terbaik di dunia," ujarnya disambut tepuk tangan hadirin. Bukan hanya itu, lanjut dia, kehadiran BLK Komunitas di pesantren juga bisa membawa berkah tersendiri bagi masyarakat. Sebab, masyarakat usia produktif yang ada di sekitar pesantren dan masih menganggur akan diajak dan diikutsertakan menjadi peserta untuk kemudian dilatih sesuai dengan kejuruan dan program yang sudah ditentukan.

Ditambahkannya, Badan Pusat Statistik (BPS) sudah memprediksi bahwa pada tahun 2030 nanti populasi Indonesia akan didominasi oleh masyarakat usia produktif dengan jumlah persentasi sekitar 60 persen. Hal ini tentu saja harus diimbangi dengan peningkatan kualitas masyarakat. "Bonus demografi ini harus kita siapkan mulai dari sekarang karena para santri nanti akan menjadi bagian dari 60 persen populasi ini," tandasnya.

Untuk itu, ia pun sangat berharap kepada para peserta yang telah mengikuti pelatihan ini agar bisa menerapkan dan mengamalkan ilmunya yang didapat selama kegiatan berlangsung.

"Kita sudah belajar dan dilatih selama seminggu untuk mengelola kegiatan pelatihan di BLK Komunitas. Tinggal nanti ilmunya diamalkan di tempat masing-masing karena pada tahun 2021 nanti Kemnaker akan memberikan 2 paket pelatihan," pungkasnya.

Ia pun menyampaikan bahwa selain melatih pengelola BLK Komunitas, saat ini Kemnaker sedang melatih calon instruktur yang akan berlangsung selama 47 hari. Kegiatan pelatihan ini tersebar di berbagai Balai Besar Latihan Kerja (BBLK) milik Kemnaker RI.

Kontributor: Aiz Luthfi
Editor: Musthofa Asrori

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/123941/kemnaker-optimis-santri-akan-bawa-indonesia-jadi-negara-maju

Pengembangan struktur organisasi Banser yang merupakan anak kandung dari GP Ansor wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu sampai ketitik penyusunan Personalia Satuan Koordinasi Cabang Barisan Ansor Serbaguna (Satkorcab Banser) Kabupaten Ogan Komering Ulu untuk Periode 2020 – 2025.


Acara yang dilaksanakan pada 30 September 2020 pukul 19:30 WIB di Masjid Al Falah, Jl. Rajawali Desa Batu Raden Kecamatan Lubuk Raja ini menghadirkan jajaran Satkorwil Sumatera Selatan yang di komandoi oleh M. Erwin Syah (Kasat Korwil) didampingi oleh Ridwan Sandi (Wakasat Korwil) beserta jajarannya.

Untuk penunjukkan Satkorcab, diharuskan mengkonsultasikan dan mengajukan nama para calon Kasat Korcab terlebih dahulu kepada Jajaran Satkorwil, hal ini sesuai dengan peraturan Organisasi Banser yang mengutamakan Kordinasi dan Komando pada setiap jajarannya.

Dalam pengajuanya, M. Yunus selaku Ketua PC Ansor Kabupaten OKU mengajukan setidaknya ada 4 nama Calon Kasat Korcab yakni:

NONAMAUTUSAN SATKORYONJENJANG KADERISASI
1
2
3
4    
Turyanto
Triyanto Munawir
Kholilurrahman
Abdul Hamid
Lubuk Raja
Sinar Peninjauan
Lubuk Batang
Lubuk Raja
DTD
Susbalan
Susbalan
Suspelat
“Kami mohonkan kepada jajaran Satkorwil untuk bisa memberikan arahan dan bimbingan kepada calon-calon yang telah kami ajukan tersebut”, pungkas M. Yunus (30/09/2020).


Dalam sambutannya Kasat Korwil menyampaikan bahwa Banser harus patuh kepada Ansor yang merupakan Panglima tertinggi.

“Seluruh Banser Harus Sami’na wa atho’na kepada Ketua dan Jajaran PC Ansor, bukan sama Kasat Korcab, terkadang yang terjadi dilapangan Ansor Berkata A namun Kasat Korcab bertindak B, seharusnya tidak begitu, Panglima tertinggi adalah Ansor, Kami harap hal ini jangan sampai terjadi di OKU. Banser itu Barisan Ansor serbaguna. Satu barisan, satu komando, kalo nggak mau dipersilahkan keluar dari barisan”, tegas M. Erwin Syah (30/09/2020).

Dengan adanya Kaderisasi dan Strukturisasi kepengurusan Banser di Kabupaten OKU diharapkan mampu merawat apa yang menjadi tradisi, mengupayakan inovasi dan menjaga keutuhan NKRI.

Kontributor: F-Wtk
Diberdayakan oleh Blogger.