Kongres Nasional Ansor akan dilaksanakan pada Oktober 2021 nanti resmi akan dilaksanakan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Provinsi Sumatera Selatan.


Perihal ini terbuka ketika Bupati Musi Banyuasin yang juga Ketua Dewan Pembina GP Ansor Sumsel Dr. Dodi Reza Alex Noerdin, Lic Econ MBA beraudiensi dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas, Sabtu (17/10/2020), pertemuan kedua orang ini merupakan dua Tokoh Pemuda Nasional yang sama-sama kader Nahdlatul Ulama (NU).

“Insya Allah Muba siap menjadi tuan rumah kongres Ansor Nasional 2021, mohon doanya dari semua untuk kelancaran dan kesuksesan acara tersebut,” pungkas Dodi Reza yang juga mantan Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

“Keluarga besar saya mengalir darah NU, Kakek saya Noerdin Pandji merupakan salah satu pendiri NU di Sumsel, sangat pantas dan terhormat bagi Muba bisa andil turut menyukseskan Kongres Nasional Ansor nantinya,” ucapnya.

Dijelaskan Dodi, dalam rangkaian Kongres Nasional GP Ansor di Muba nantinya juga akan melaksanakan pemilihan Ketua Umum PP Ansor.

“Peserta cabang seluruh Indonesia jumlah 416 Kabupaten dan masa yang akan hadir kurang lebih 5.000 peserta,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, sudah sangat tepat memilih Muba sebagai tuan rumah pelaksanaan Kongres Ansor Nasional.

“Muba ini Kabupaten yang hebat, punya fasilitas yang lebih dari cukup, apalagi Bupati-nya Ketua Dewan Pembina GP Provinsi Sumsel,” ucapnya.

Gus Yaqut berharap, pelaksanaan Kongres Ansor Nasional nantinya berjalan lancar dan semua peserta Kongres bisa khusyuk mengikuti rangkaian Kongres.

“Kita berdoa semoga lancar dan Muba akan menjadi contoh terbaik tuan rumah Kongres Ansor Nasional sepanjang masa,” pungkasnya.

Ketua PWGP Ansor Sumsel, Ahmad Zarkasih S.HI M.M menambahkan siap lahir batin untuk mensukseskan agenda Ansor nasional jika diselenggarakan di Sumsel. “Insya Allah kami siap lahir batin,” pungkasnya.

Pada kesempatan pertemuan tersebut, Bupati Muba Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA turut didampingi Kabag Kesra Muba Opi Palopi dan Ketua PW Ansor Sumsel Zarkasih SHI MM yang juga Wakil Ketua DPRD Banyuasin.

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial keagamaan yang beraqidah Islam sesuai paham Ahlusunnah wal Jama'ah (Aswaja). Dalam bidang aqidah, NU mengikuti madzhab Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Iman Abu Mansur al-Maturidi. Di bidang fiqh mengikuti salah satu dari madzhab empat yaitu: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Di bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam al-Junaidi al-Bagdadi dan Imam Abu Hamid al-Ghazali.

Paham Aswaja itulah yang senantiasa dipertahankan, dilestarikan, dikembangkan serta diamalkan oleh segenap warga Nahdliyin. Paham tersebut dikenal sebagai Aswaja an-Nahdliyah. Setiap warga Nahdliyin harus mengerti dengan baik paham Aswaja an-Nahdliyah. Agar segenap perikehidupan warga Nahdliyin mencerminkan karakter tawassuth, tawazun, i'tidal, dan tasamuh. Yaitu karakter muslim kamil yang mampu tampil sebagai pengejawantahan kasih sayang bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin). Untuk itu, upaya penguatan paham Aswaja an-Nahdliyah kepada warga Nahdliyin menjadi strategis dilakukan secara berkesinambungan. 

Pembinaan organisasi dan penguatan paham Aswaja an-Nahdliyah itu disampaikan oleh Katib Syuriah PCNU OKU; Mukti Riadi, SST, SSi, SE, M.Si, dalam pengajian rutin Muslimat NU yang diselenggarakan di Masjid Al-Falah Desa Batu Raden, Lubuk Raja (Minggu, 18/10/2020).


Dalam kesempatan pengajian yang dihadiri lebih dari 200 jamaah itu, Mukti menegaskan: “Tugas utama pengurus adalah memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah. Pengurus jangan minta dilayani. Namun, layanilah jamaah agar suara kita didengar. Ajakan kita diikuti. Semua kita, jangan pernah berhenti belajar. Karena tantangan kehidupan dan organisasi Muslimat NU ke depan semakin dinamis. Besarkan Muslimat NU ini dengan melipatgandakan kemanfaatannya di tengah-tengah masyarakat”.

Mukti juga menjelaskan bahwa Muslimat NU sebagai badan otonom NU memiliki tanggung jawab dalam mempertahankan dan menyebarluaskan paham Aswaja an-Nahdliyah di masyarakat. Dalam berhukum paham Aswaja an-Nahdliyah bersumber pada Al-Qur’an, al-Hadits, Qiyas dan Ijtima’ ulama. Hal itu melekat langsung pada setiap kata dalam istilah Ahlisunnah wal Jamaah yang terdiri dari tiga suku kata. 

Dikatakan oleh Mukti; “Kata ahlun dapat diartikan dengan keluarga, ahli atau pengikut. Kata sunnah merujuk pada pengertian semua perbuatan, perkataan maupun ketetapan Rasulullah SAW. Kata wal Jamaah mengandung makna kumpulan orang-orang yang memiliki kesetiaan dan tujuan yang sama. Yakni hanya bertujuan menggapai redlo Allah SWT dalam panji Islam. Adapun yang dimaksud wal Jamaah adalah para pengikut setia Rasulullah SAW mulai para khulafaur rosyidin, sahabat, tabiin, tabiit tabiin dan para ulama yang hanif. Maka, dengan mengikuti paham Aswaja berarti kita menjadi pengikut setia sekaligus pembela ajaran Rasulullah SAW hingga yaumil akhir kelak”.


Dalam hal pengelolaan organisasi, Mukti menekankan pentingnya pembinaan dan kaderisasi. Jajaran pengurus Muslimat NU harus proaktif membentuk struktur kepengurusan hingga ke bawah, yaitu Pimpinan Wakil Cabang, Pimpinan Ranting dan bila memungkinkan Pimpinan Anak Ranting. 

Dengan demikian gerak organisasi semakin luas dan memiliki struktur serta jejaring yang handal. Kata kunci keberhasilan berorganisasi manakala semua pengurus dan anggota memiliki tujuan yang sama. Tidak bergerak dan bertindak untuk dan atas nama kepentingan pribadi. 

“Pengurus harus memahami 6M agar sukses berorganisasi, yakni men (Sumberdaya manusia yang komit, jujur dan handal), money (pengelolaan dana/anggaran yang bertanggung jawab), method (strategi pencapaian tujuan), material (sarana-prasarana pendukung), minute (target waktu yang relevan) dan market (karakter jamaah yang dilayani). Inventarisasi semua potensi yang dimiliki. Jawab semua permasalahan dan tantangan secara terukur dan terstruktur”, seru Mukti.


Dalam kesempatan tersebut, Mukti sempat mengajukan pertanyaan: “Taukah ibu-ibu mengapa NU menggunakan lambang Bintang Sembilan?” Tanpa menunggu jawaban jamaah, Mukti pun menjelaskan: “Ada dua makna. Makna pertama, lima bintang di bagian atas melambangkan Rasulullah (bintang paling besar) dan 4 sahabatnya (Saidina Abu Bakar bin Shidiq RA, Saidina Umar bin Khotob RA, Saidina Ustman bin Affan RA dan Saidina Ali bin Abi Thalib RA). Sementara 4 bintang di bagian bawah melambangkan 4 Imam Madzab (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali). Makna kedua, kesembilan bintang tersebut melambangkan wali sanga sebagai pembawa Islam pertama ke bumi Nusantara”. Wallahu a’lam.

Diharapkan seluruh kader pengurus NU di Kabupaten OKU mampu memahami tugas pokok dan fungsinya dalam menjalankan roda organisasi, sehingga kiprah NU bisa lebih dirasakan oleh masyarakat yang mayoritas penganut Aswaja.

Lamanya berorganisasi tidak akan menjadi penentu majunya sebuah organisasi tersebut apabila dasar pemikiran dan kaidah-kaidah serta tupoksinya tidak dipahami dan dilaksanakan secara nyata.

Editor: F-Wtk

Dalam rangka menyambut hari lahir kekasih Allah SWT, Junjungan kita semua Nabi Agung Muhammad SAW, Muslimat NU di OKU melaksanakan Khotmil Qur'an atau Khataman Qur'an yang langsung dibuka oleh KH. Sofwan Syihab selaku Rais Syuriyah PCNU Kabupaten OKU.

Seperti diberitakan sebelumnya bahwa Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) telah mengikhbarkan awal bulan Rabiul Awal 1442 H jatuh pada Ahad (18/10).



Seyogiyanya Maulid Nabi Muhammad SAW atau 12 Rabiul Awal 1442 diperingati pada Rabu (28/10) malam, namun kecintaan terhadap Auliya' kekasih Allah SWT ini tak dapat dibendung oleh Mayoritas warga Nahdliyin khususnya di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Gema Khotmil Qur'an Muslimat OKU yang dilaksanakan pada Minggu (18/10) berlokasi di Masjid Al-Falah Desa Batu Raden Kecamatan Lubuk Raja membawa nuansa tersendiri bagi jajaran pengurus NU di Kabupaten OKU khususnya Banom Muslimat yang notabene merupakan jajaran pengurus baru.



Acara yang dihadiri kurang lebih 200 orang Muslimat ini dihadiri pula oleh jajaran Pengurus Cabang NU Kabupaten OKU, diantaranya Kiai Syafaat Ariful Huda selaku salah satu Mustasyar, Kiai Mukti Riyadi, S.ST., S.Si., SE., MSi. selaku Katib, Ust. Maksum selaku A'Wan dan dihadiri pula oleh Bapak Drs. Supriono, MM. selaku Wakil Ketua Tanfidziyah dan Edy Basuki selaku Bendahara Tanfidziyah.



Dalam acara ini beberapa Muslimat di daulat untuk membaca Ayat Suci Al-Quran secara bersamaan dengan membagi bacaan perorang 1 Juz.

Dengan selesainya acara Khatmil Qur'an ini diharapkan mampu menjadikan sebab diampuninya dosa Jama'ah yang hadir khususnya dan kaum muslimin umumnya serta mampu menguatkan tali silaturahmi bagi Muslimat OKU.


(F-Wtk)

Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani menyampaikan, sejak hari santri ditetapkan pada tahun 2015, Kemenag selalu menggelar peringatan hari santri setiap tahun dengan tema yang berbeda-beda. Secara berurutan pada tahun 2016 mengusung tema 'Dari Pesantren Untuk Indonesia'.


Kementerian Agama (Kemenag) bekerjasama dengan ormas Islam kembali menyelenggarakan peringatan Hari Santri 2020 bertema 'Santri Sehat Indonesia Kuat' yang diluncurkan pada 1 Oktober 2020. Peringatan Hari Santri tahun ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan dan penyebaran Covid-19.

Kemudian di tahun 2017 mengusung tema 'Wajah Pesantren Wajah Indonesia, tahun 2018 bertema 'Bersama Santri Damailah Negeri, dan tahun 2019 bertema 'Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia'. "Dan untuk peringatan Hari Santri 2020 secara khusus mengusung tema 'Santri Sehat Indonesia Kuat'," kata Ramdhani saat peluncuran Hari Santri 2020 di Kemenag, Kamis (1/10).

Ia menyampaikan, isu kesehatan diangkat berdasarkan fakta bahwa dunia pada saat ini tidak terkecuali negara Indonesia tengah dilanda pandemi Covid-19. Pengalaman terbaik dari beberapa pesantren telah berhasil melakukan upaya pencegahan, pengendalian, dan penanganan dampak pandemi Covid-19.

Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa pesantren memiliki kemampuan di tengah keterbatasan yang dimilikinya untuk menangani berbagai tantangan dan dinamika lingkungan. Tentu modal utamanya adalah tradisi kedisiplinan yang selama ini diajarkan kepada para santri dan keteladanan sikap serta kehati-hatian para kiai atau pimpinan pesantren.

"Tentu saja dilengkapi dengan dimensi-dimensi transenden dan dimensi-dimensi spiritual yang diajarkan di lingkungan pesantren, karena mereka akan tetap mengutamakan keselamatan santrinya dibanding dengan proses pembelajaran pesantren," ujarnya.

Ramdhani menyampaikan rangkaian peringatan Hari Santri 2020. Di antaranya pada 30 September - 15 Oktober 2020 dilaksanakan Santri Millennials Competitions, pada 5 - 20 Oktober 2020 dilaksanakan Muktamar Pemikiran Santri Nusantara, dan pada 6 - 7 Oktober 2020 dilaksanakan Kopdar Akbar Santrinet Nusantara.

Selanjutnya pada 8 Oktober 2020 dilaksanakan Shalawat Creator and Influencer Summit. Pada 15 Oktober 2020 dilaksanakan Penyerahan BOP Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Islam, serta Bantuan Pembelajaran Daring Pesantren. "Pada 21 Oktober 2020 dilaksanakan Santriversary, dan Malam Puncak Peringatan Hari Santri 2020, dan  22 Oktober 2020 dilaksanakan Upacara Bendera," ujarnya.

Ramdhani mengatakan, penyelenggaraan hari santri tahun ini Kemenag bergandengan tangan dengan ormas Islam. Insya Allah akan mengusung tema yang sama yakni 'Santri Sehat Indonesia Kuat'. Mengingat sekarang masih dalam kondisi pandemi Covid-19, peringatan hari santri akan tetap berpedoman pada protokol kesehatan dalam rangka mencegah dan mengendalikan Covid-19.

Wakil Menteri Agama (Wamenag), KH Zainut Tauhid Sa'adi memastikan peringatan hari santri disesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19. Artinya dilakukan secara virtual dengan berbagai kegiatan dan lomba. Ada kegiatan seminar dilakukan virtual untuk menjaga kesehatan para santri dan juga para pengasuh pondok pesantren.

"Nanti puncak pada 22 Oktober 2020, kami berharap bapak presiden akan memberikan wejangan amanat untuk para santri di seluruh Indonesia," kata Wamenag.

Dikutip dari buku 'Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren' karya Abdulloh Hamid M.Pd, resolusi jihad tersebut menggerakkan santri, pemuda, dan masyarakat untuk bergerak bersama, berjuang melawan pasukan kolonial yang puncaknya terjadi pada 10 November 1945.


Setiap tanggal 22 Oktober diperingati sebagai hari Santri Nasional. Peringatan ini menjadi hal yang penting karena tujuannya untuk mengingatkan masyarakat tentang resolusi jihad KH Hasyim Asyari.

Latar Belakang Peringatan Hari Santri Nasional

Peringatan ini mengisahkan Hasyim Asyari yang kala itu menjabat sebagai Rais Akbar PBNU memutuskan untuk melakukan resolusi jihad melawan pasukan kolonial di Surabaya, Jawa Timur. Keputusan itu ditetapkan setelah mendengar tentara Belanda yang berupaya kembali menguasai Indonesia dengan membonceng sekutu.

Para santri pun meminta kepada pemerintah supaya menentukan sikap dan tindakan agar tidak membahayakan kemerdekaan serta agama. Pasalnya, perbuatan Belanda dan Jepang kepada Indonesia dianggap sebagai perilaku zalim bagi NU.

Sejak menyerukan resolusi jihad tersebut, para santri dan rakyat pun melakukan perlawanan sengit dalam pertempuran di Surabaya. Pimpinan Sekutu Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby pun tewas dalam pertempuran.

Hari Santri Nasional pun dituangkan ke dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani di Masjid Istiqlal, Jakarta. Dengan begitu, masyarakat bisa kembali mengingat perjuangan dan meneladankan semangat jihad para santri yang digelorakan para ulama.

Lirik Lagu Hari Santri

22 Oktober 45 - Resolusi jihad panggilan jiwa
Santri dan ulama tetap setia
Berkorban pertahankan indonesia

Saat ini kita telah merdeka
Mari teruskan perjuangan ulama
Berperan aktif dengan dasar pancasila
Nusantara tanggung jawab kita

Reff:

Hari santri hari santri hari santri
Hari santri bukti cinta pada negeri
Ridho dan rahmat dari ilahi
Nkri harga mati

Ayo santri ayo santri ayo santri
Ayo ngaji dan patuh pada kyai
Jayalah bangsa, jaya negara
Jayalah pesantren kita

Mari bersiap kita berangkat
Ke pesantren dengan penuh semangat
Raih cita cita luruskan niat
Mengabdi tuk kemaslahatan umat

Back to reff

***

Jayalah bangsa negara
Jayalah indonesia
Jayalah indonesia

Selamat Hari Santri Nasional 2020!

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengikhbarkan awal bulan Rabiul Awal 1442 H jatuh pada Ahad (18/10).


"Awal Rabiul Awal 1442 H bertepatan dengan hari Ahad Pahing (mulai malam Ahad), 18 Oktober 2020," kata Ketua LF PBNU KH Sirril Wafa melalui rilis yang diterima NU Online pada Ahad (18/10) pagi.

Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil pengamatan sebagian perukyah yang menangkap adanya hilal.

"Sebab hilal terlihat pada Sabtu petang 29 Shafar 1442 H," lanjut dosen ilmu falak di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.   Setidaknya, ada tiga lokasi yang berhasil melihat hilal awal Rabiul Awal 1441 H, yakni Bukit Condrodipo, Gresik, Jawa Timur; Masjid Jami' Denanyar, Jombang, Jawa Timur; dan Balai Rukyat Ibnu Syatir Joresan, Ponorogo, Jawa Timur.

Dengan adanya ikhbar tersebut, Maulid Nabi Muhammad SAW atau 12 Rabiul Awal 1442 diperingati pada Rabu (28/10) malam. Sebagai informasi, tinggi hilal pada akhir Shafar 1442 sudah mencapai 8 derajat 3 menit 36 detik di Markaz Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta. Sementara ijtimaknya terjadi pada Sabtu (17/10) dinihari, pukul 02.31.51 WIB.

Data tersebut sudah memenuhi kriteria imkanurrukyah, kemungkinan hilal bisa terlihat mengingat ketinggiannya sudah lebih dari 2 derajat dan rentang waktu ijtimak dengan terbenamnya matahari pada pukul 17.49 WIB sudah lebih dari 15 jam.

Adapun kedudukan hilal berada pada 1 derajat 20 menit 59 detik sebelah utara matahari dengan durasi terlihat selama 31 menit 1 detik.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan
Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/123950/masuk-rabiul-awal--maulid-nabi-jatuh-pada-rabu-malam-28-oktober

Dilansir dari laman situs Batumarta Update, Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kecamatan Lubuk Raja Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) telah menggelar Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) di halaman Masjid Al Falah Desa Batu Raden Kecamatan Lubuk Raja, Minggu Pagi (11/10/2020).


Ditempat yang sama Ketua PSNU Pagar Nusa Kecamatan Lubuk Raja, yang biasa disapa dengan Bang Togar, menyampaikan bahwa

UKT kali ini diikuti 25 santri PSNU se-Lubuk Raja, dan dibuka langsung dibuka oleh Rais Syuriah PCNU OKU yakni KH. Sofwan Syihab.

Dalam sambutannya Rais Syuriah PCNU OKU yang akrab dipanggil Abah Sofwan berpesan agar peserta UKT tetap semangat dan ikhlas manjalani seluruh proses.

“Ikhlas jalani seluruh proses. Insyallah akan membawa berkah untuk kita semua,” ujar Abah Sofwan.

Abah Sofwan menekankan bahwa PSNU adalah benteng NKRI, sudah semestinya harus ditanamkan dalam setiap santri Pagar Nusa bahwa NKRI adalah harga mati yang tidak boleh ditawar-tawar.

“Kita adalah benteng NKRI, Siapa yang mengganggu NKRI dan Ulama NU maka kita harus menjadi garda terdepan,” Tegasnya.

Tak hanya itu, Abah Sofwan juga menambahkan sudah saatnya santri PSNU wajib mencintai Negara Indonesia ini dengan cara menjaga keutuhan NKRI dari mereka yang ingin mengganggu dan merusak NKRI.

Secara terpisah Ketua PAC Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Lubuk Raja, Yoyon Asfai, juga menyambut baik kegiatan UKT ini dan tentunya kedepan akan ada beberapa hal terkait dengan program Ansor Lubuk Raja yang tentunya kedepan bisa di sinergikan dengan seluruh anggota PSNU.

“Ansor dan Banser selalu siap mendukung dan mensukseskan acara Pagar Nusa di Lubuk Raja, untuk itu jangan segan-segan untuk selalu konsultasi dan koordinasi dengan kami. Karna bagi kami, PSNU adalah Saudara Kandung Ansor”. Pungkasnya.

Berkibarnya bendera dan Ruh NU di wilayah Kabupaten OKU merupakan sebuah titik balik yang efektif dalam realisasi visi dan misi organisasi NU.

Pengembangan struktur dan kepengurusan Organisasi baik Banom maupun Lembaga NU di Kabupaten OKU saat ini telah dimulai dari akar rumpun, diharapkan mampu menjadi penyokong semangat bagi kader-kader NU yang telah berjuang terlebih dahulu dalam naungan Bendera NU, inilah generasi muda NU, bibit-bibit Kader pilihan yang diharapkan kedepan mampu menjadi generasi penerus dalam upaya mengemban dan melaksanakan visi dan misi organisasi NU secara umum.

Kontributor: Yyn
Editor: F-Wtk
Source: Batumarta Update

Diberdayakan oleh Blogger.